Kebijakan Keras Macron Dinilai Membuat Muslim Prancis Terasing

Selasa, 17 November 2020 - 18:11 WIB
Ilustrasi
PARIS - Tepat setelah Prancis menjadi sasaran serangkaian serangan teroris musim gugur ini, Presiden Emmanuel Macron bertemu dengan para pemimpin Uni Eropa (UE) lainnya. Pertemuan ini dilangsungkan untuk membahas tanggapan blok tersebut terhadap ancaman teror.

Reaksi awal Macron, termasuk janji untuk melindungi hak penerbitan karikatur Nabi Muhammad. Bahkan, proyeksi kartun kontroversial Charlie Hebdo di gedung-gedung publik, dalam apa yang dia serukan untuk membela kebebasan berekspresi di negaranya.



(Baca: Amnesty: Prancis Bukan Juara Dalam Kebebasan Berbicara )

Serangan tersebut juga memulai pendekatan 'mencari kambing hitam' pejabat Prancis yang agak terburu-buru dan kaum Muslim menjadi sasarannya. Para kritikus mengatakan, pemerintah Macron mengeksploitasi serentetan kekerasan untuk meningkatkan sikap anti-Muslimnya yang kontroversial.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!