Diplomat AS Ingin Ubah Taiwan Jadi Sarang Lebah Drone
Jum'at, 03 Juli 2026 - 17:26 WIB
Drone Teng Yun 2 milik Taiwan. Foto/asiatimes
WASHINGTON - Diplomat Amerika Serikat terkemuka di Taiwan menyerukan agar pulau yang dikelola sendiri itu diubah menjadi “sarang lebah” drone udara, permukaan, dan bawah permukaan. Seruan itu muncul seiring Washington terus memperluas kerja sama militer dengan Taipei meskipun ada peringatan berulang kali dari Beijing.
AS tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat tetapi tetap menjadi pendukung militer dan pemasok senjata utamanya, dan mempertahankan hubungan diplomatik melalui semacam kedutaan, American Institute in Taiwan (AIT).
Direkturnya, Raymond Greene, mengklaim pada hari Kamis (2/7/2026) bahwa drone mewakili “peluang yang mengubah permainan” untuk memperkuat keamanan Taiwan dan memperkuat apa yang ia gambarkan sebagai “postur pencegahan yang lebih luas.”
“AS dan Taiwan dapat menjadi landasan produksi drone ‘demokratis’ dan memperkuat postur pencegahan kolektif dunia bebas,” kata Greene di forum drone di kota Taichung, Taiwan tengah.
“Untungnya bagi Taiwan, drone telah secara signifikan meningkatkan kemampuan pertahanan, bahkan ketika menghadapi rintangan yang sangat besar,” tambahnya, mengutip konflik Ukraina.
AS tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat tetapi tetap menjadi pendukung militer dan pemasok senjata utamanya, dan mempertahankan hubungan diplomatik melalui semacam kedutaan, American Institute in Taiwan (AIT).
Direkturnya, Raymond Greene, mengklaim pada hari Kamis (2/7/2026) bahwa drone mewakili “peluang yang mengubah permainan” untuk memperkuat keamanan Taiwan dan memperkuat apa yang ia gambarkan sebagai “postur pencegahan yang lebih luas.”
“AS dan Taiwan dapat menjadi landasan produksi drone ‘demokratis’ dan memperkuat postur pencegahan kolektif dunia bebas,” kata Greene di forum drone di kota Taichung, Taiwan tengah.
“Untungnya bagi Taiwan, drone telah secara signifikan meningkatkan kemampuan pertahanan, bahkan ketika menghadapi rintangan yang sangat besar,” tambahnya, mengutip konflik Ukraina.
Lihat Juga :