Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Minggu, 28 Juni 2026 - 09:41 WIB
Dia mengutip penilaian pemerintah Amerika Serikat yang menyebut jumlah hulu ledak nuklir operasional China meningkat dari kisaran sedikit di atas 200 unit pada 2020 menjadi lebih dari 600 saat ini. Washington juga memperkirakan jumlah tersebut dapat melampaui 1.000 hulu ledak pada 2030.
Selain penambahan jumlah persenjataan, China juga disebut mengembangkan berbagai kemampuan baru, termasuk kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicles), rudal berhulu ledak majemuk atau multiple independently targetable reentry vehicles (MIRV), serta pembangunan ladang silo rudal dalam skala besar.
Menurut Thondup, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pendekatan yang lebih menahan diri pada era Jiang.
Dia juga berpendapat bahwa modernisasi nuklir berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan, Selat Taiwan, dan Laut China Timur.
Dalam analisisnya, Thondup melihat perbedaan mendasar antara kedua era kepemimpinan tersebut.
Dia menilai Jiang Zemin membangun legitimasi pemerintah melalui pertumbuhan ekonomi dan integrasi dengan sistem internasional.
Sebaliknya, menurutnya, Xi Jinping lebih banyak mengandalkan nasionalisme dan penguatan militer sebagai instrumen untuk memperkokoh legitimasi Partai Komunis China.
Pada saat yang sama, Thondup berpendapat bahwa lingkungan strategis global juga telah berubah.
Jika Jiang memimpin pada periode pasca-Perang Dingin yang relatif optimistis, Xi menghadapi dunia yang semakin multipolar dan kompetitif, sehingga Beijing memandang kekuatan militer, termasuk deterensi nuklir, sebagai elemen penting dalam mempertahankan pengaruhnya.
Meski demikian, Thondup menilai perubahan lingkungan internasional tidak sepenuhnya menjelaskan transformasi tersebut.
Dia berpendapat bahwa arah kebijakan Xi mencerminkan ambisi yang lebih luas dibandingkan sekadar menjaga keamanan nasional.
"Jiang mengupayakan integrasi; Xi berupaya membentuk kembali tatanan global," ucapnya.
Bagi Thondup, modernisasi militer China memunculkan kontradiksi dengan pesan diplomatik yang pernah disampaikan Jiang Zemin.
Selain penambahan jumlah persenjataan, China juga disebut mengembangkan berbagai kemampuan baru, termasuk kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicles), rudal berhulu ledak majemuk atau multiple independently targetable reentry vehicles (MIRV), serta pembangunan ladang silo rudal dalam skala besar.
Menurut Thondup, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pendekatan yang lebih menahan diri pada era Jiang.
Dia juga berpendapat bahwa modernisasi nuklir berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan, Selat Taiwan, dan Laut China Timur.
Perubahan Strategi
Dalam analisisnya, Thondup melihat perbedaan mendasar antara kedua era kepemimpinan tersebut.
Dia menilai Jiang Zemin membangun legitimasi pemerintah melalui pertumbuhan ekonomi dan integrasi dengan sistem internasional.
Sebaliknya, menurutnya, Xi Jinping lebih banyak mengandalkan nasionalisme dan penguatan militer sebagai instrumen untuk memperkokoh legitimasi Partai Komunis China.
Pada saat yang sama, Thondup berpendapat bahwa lingkungan strategis global juga telah berubah.
Jika Jiang memimpin pada periode pasca-Perang Dingin yang relatif optimistis, Xi menghadapi dunia yang semakin multipolar dan kompetitif, sehingga Beijing memandang kekuatan militer, termasuk deterensi nuklir, sebagai elemen penting dalam mempertahankan pengaruhnya.
Meski demikian, Thondup menilai perubahan lingkungan internasional tidak sepenuhnya menjelaskan transformasi tersebut.
Dia berpendapat bahwa arah kebijakan Xi mencerminkan ambisi yang lebih luas dibandingkan sekadar menjaga keamanan nasional.
"Jiang mengupayakan integrasi; Xi berupaya membentuk kembali tatanan global," ucapnya.
Janji yang Dipertanyakan
Bagi Thondup, modernisasi militer China memunculkan kontradiksi dengan pesan diplomatik yang pernah disampaikan Jiang Zemin.
Lihat Juga :