Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama

Kamis, 18 Juni 2026 - 01:10 WIB
Pesawat bersayap sapu ini telah mengalami beberapa peningkatan selama bertahun-tahun dan mampu meluncurkan berbagai macam senjata dalam inventaris AS, mulai dari bom kluster dan bom gravitasi hingga rudal berpemandu presisi dan hulu ledak nuklir, pada ketinggian hingga 50.000 kaki (15.166 m), menurut lembar fakta Angkatan Udara. Jangkauan tempurnya mencapai lebih dari 8.000 mil tanpa pengisian bahan bakar.

Hanya model H dari B-52 yang tersisa dalam inventaris Angkatan Udara. Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan hari Senin ditugaskan ke Sayap Uji ke-412, yang berbasis di Edwards. Sebagian besar B-52 ditempatkan di North Dakota dan Louisiana.

2. Tu-22

Di sisi lain, Tu-22 diberi kode nama "Backfire" oleh NATO. Ini adalah pesawat pembom supersonik era Soviet yang sejak itu digunakan Rusia untuk misi tempur di Suriah dan Ukraina. Pesawat ini merupakan versi modern dari pesawat Tu-22 asli, yang dapat mengirimkan rudal jelajah udara Kh-22 (AS-4 Kitchen) serta rudal hipersonik Kinzhal "Dagger" yang diluncurkan dari udara, menurut Bulletin of the Atomic Scientists.

Selain itu, seperti halnya B-52, Tu-22 juga telah menjadi fokus upaya peningkatan, pemeliharaan, dan modernisasi sejak memasuki armada Rusia pada tahun 1960-an. Varian paling modern, Tu-22M3s, muncul pada tahun 2018 dan dilaporkan mampu melakukan pengeboman jarak jauh di ketinggian tinggi.

Baik AS maupun Rusia telah melakukan investasi yang sangat konservatif dalam mengembangkan desain baru pesawat pengebom besar seperti B-52 dan Tu-22 setelah berakhirnya Perang Dingin. Washington dan Moskow saat ini sedang mengembangkan generasi baru pesawat pengebom strategis jarak jauh di bawah program B-21 dan PAK DP masing-masing, tetapi kedua negara menghadapi penundaan yang signifikan.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!