5 Fakta Kehancuran 16 Pangkalan AS di Timur Tengah yang Ditutupi Pentagon

Minggu, 03 Mei 2026 - 01:10 WIB
Kehancuran 16 pangkalan militer AS di Timur Tengah yang ditutupi Pentagon. Foto/RT
WASHINGTON - Bukti kerusakan yang ditimbulkan pada fasilitas militer AS di Teluk selama perang dengan Iran terus bermunculan, dengan Washington mengakui bahwa fasilitas tersebut terkena serangan di berbagai negara. Meskipun angka media terbaru mengatakan bahwa setidaknya 16 pangkalan Amerika di wilayah tersebut terkena serangan, Pentagon tampaknya berusaha keras untuk menyembunyikan kerusakan tersebut.

Beberapa jam setelah AS meluncurkan 'Operasi Epic Fury' pada 28 Februari, Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah, dengan para pejabat AS mengkonfirmasi semakin banyaknya lokasi yang terkena serangan dan pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi muncul sebagai titik fokus kampanye tersebut.



Di balik tabir sensor, semakin jelas bahwa kerusakan mungkin jauh lebih parah daripada yang diakui Pentagon.

5 Fakta Kehancuran 16 Pangkalan AS di Timur Tengah yang Ditutupi Pentagon

1. Pemerintah AS Berusaha Keras Menutupinya

Dalam sebuah laporan kepada komite Kongres pada hari Rabu, pejabat senior Pentagon Jules Hurst memperkirakan bahwa perang tersebut telah menelan biaya sekitar USD25 miliar bagi Washington, sebagian besar diduga untuk amunisi yang telah digunakan. Menteri Perang Pete Hegseth kemudian menolak untuk mengatakan apakah angka tersebut termasuk biaya perbaikan pangkalan AS.

Para anggota parlemen telah mengecam perkiraan tersebut, menyebutnya tidak realistis mengingat laporan awal Pentagon, yang mengatakan perang tersebut telah menelan biaya sekitar USD11 miliar hanya dalam enam hari pertama.

Namun, biaya sebenarnya dari konflik tersebut dilaporkan jauh lebih tinggi. Dengan memperhitungkan biaya perbaikan fasilitas militer AS yang rusak, angkanya bisa mendekati USD40-50 miliar, demikian laporan CNN, mengutip sumber anonim.

Balasan Iran atas serangan awal tersebut menyebabkan mereka menyerang puluhan target di fasilitas AS di delapan negara Timur Tengah, kata CNN. Gudang, markas komando, hanggar pesawat, infrastruktur komunikasi satelit, landasan pacu, sistem radar canggih, dan puluhan pesawat dilaporkan terkena serangan.

Pada awal konflik, sebuah jet tempur F-5 Iran membom Camp Buehring di Kuwait, menandai pertama kalinya dalam beberapa tahun pangkalan AS diserang oleh pesawat sayap tetap musuh, menurut para pejabat.

2. Washington Menunda Rilis Citra Satelit

Pada pertengahan Maret, perusahaan Planet Labs yang berbasis di California, yang menyediakan akses ke citra satelit untuk pemerintah dan bisnis, memperpanjang penundaan rilis citra satelit kerusakan hingga 14 hari untuk mencegah penggunaan oleh "aktor yang bermusuhan."

Pada tanggal 5 April, Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah meminta perusahaan tersebut, bersama dengan beberapa perusahaan lain yang bekerja di sektor ini, untuk "secara sukarela menahan gambar-gambar area kepentingan tertentu karena konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah." Beberapa gambar Planet Labs yang dibagikan secara daring memperlihatkan kerusakan pada situs militer AS.

Kerusakan yang dilaporkan pada aset bernilai tinggi seperti pesawat E-3 AWACS dan jet tempur F-35 menunjukkan pola yang lebih luas dari Iran yang menargetkan kekuatan udara dan kemampuan pengawasan AS. Sebuah pesawat E-3 Sentry dilaporkan rusak atau hancur dalam serangan pada tanggal 27 Maret di Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Sebelumnya, sebuah pesawat F-35 AS rusak selama misi di atas Iran dan terpaksa melakukan pendaratan darurat, sementara tiga jet F-15E AS ditembak jatuh di atas Kuwait pada 2 Maret dalam insiden tembakan salah sasaran, kata Komando Pusat AS (CENTCOM).

Jumlah korban tewas AS terus meningkat sejak Februari. Militer AS telah mengkonfirmasi 13 korban jiwa akibat serangan Iran di seluruh wilayah, sementara lebih dari 400 tentara terluka, menurut angka yang dikutip di Kongres.

3. Serangan Baru dan Kerusakan yang Meluas

Melansir RT, Iran terus memperluas cakupan serangannya selama fase aktif konflik. Pernyataan militer Iran yang dimuat oleh media lokal menyebutkan target termasuk Kamp Arifjan di Kuwait, Pangkalan Udara Pangeran Sultan dekat Al-Kharj di Arab Saudi, dan Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain, sementara juga merujuk secara lebih luas pada serangan terhadap posisi AS di Irak, UEA, dan di seluruh Teluk. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim telah menargetkan Armada Kelima AS dan menghancurkan peralatan militer Amerika yang "bernilai tinggi".

Serangan Iran hampir melenyapkan radar jarak jauh dan peralatan komunikasi AS di wilayah tersebut, menghancurkan semua kecuali satu kubah radar regional Amerika dalam waktu kurang dari sebulan sejak konflik dimulai, demikian kesimpulan investigasi CNN pada hari Jumat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!