Bukan Mojtaba Khamenei, tapi Para Jenderal yang Menjalankan Negara Iran

Jum'at, 24 April 2026 - 09:02 WIB
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mantan jenderal Garda Revolusi yang juga negosiator utama dengan Amerika Serikat di Pakistan, mengatakan dalam pidato televisi pada hari Sabtu bahwa proposal AS untuk kesepakatan nuklir dan rencana perdamaian serta tanggapan Iran telah dibagikan kepada Mojtaba Khamenei dan pandangannya telah dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Kebangkitan Garda Revolusi



Korps Garda Revolusi Islam, yang dibentuk sebagai pelindung Revolusi Islam 1979, telah secara bertahap mengumpulkan kekuasaan melalui peran politik utama, kepemilikan saham di industri-industri kunci, dominasi operasi intelijen, dan pembinaan hubungan dengan kelompok-kelompok militan di Timur Tengah yang memiliki permusuhan yang sama dengan Iran terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Namun di bawah kepemimpinan almarahum Ayatollah Ali Khamenei, mereka sebagian besar masih harus mematuhi kehendaknya sebagai tokoh agama tunggal yang juga menjabat sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata. Ali Khamenei memberdayakan Garda Revolusi, dan seiring waktu mereka menjadi alat dan pilar kekuasaannya.

Pembunuhan Ali Khamenei pada hari pertama perang menciptakan kekosongan dan peluang. Garda Revolusi bersatu di belakang Mojtaba dalam perebutan suksesi yang terjadi dan memainkan peran penting dalam pemilihannya sebagai pemimpin tertinggi Iran ketiga.

Garda Revolusi memiliki banyak pengaruh kekuasaan. Panglima tertingginya adalah Brigadir Jendera Ahmad Vahidi. Jenderal Mohammad Bagher Zolghadr, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang baru diangkat, adalah mantan komandan garis keras Garda Revolusi. Jenderal Yahya Rahim Safavi, seorang komandan, telah menjabat sebagai penasihat militer utama bagi almarahum Khamenei dan Mojtaba.

“Mojtaba bukanlah pemimpin tertinggi; dia mungkin pemimpin secara nominal, tetapi dia bukanlah pemimpin tertinggi seperti ayahnya,” kata Ali Vaez, direktur Iran dari International Crisis Group yang memiliki banyak kontak di Iran.

“Mojtaba tunduk kepada Garda Revolusi karena dia berutang posisinya dan kelangsungan sistem kepada mereka," ujarnya.

Para pejabat yang diwawancarai mengatakan para jenderal memandang perang dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai ancaman terhadap kelangsungan rezim, dan setelah lima minggu pertempuran sengit, para jenderal yakin bahwa mereka telah mengatasi ancaman tersebut. Di setiap tahapan, mereka telah memimpin dalam menentukan strategi dan penggunaan sumber daya.

Mereka telah mengguncang ekonomi global dengan menutup Selat Hormuz dan telah menggunakan setiap keuntungan dalam perang sebagai pengaruh untuk mengalahkan saingan politik di dalam negeri. Presiden terpilih dan kabinetnya telah dikesampingkan dan diperintahkan untuk hanya fokus pada urusan domestik, seperti menyediakan pasokan makanan dan bahan bakar yang stabil, dan untuk memastikan negara berfungsi, menurut para pejabat yang mengetahui masalah ini.

Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, telah dipinggirkan dalam negosiasi yang dipimpinnya dengan Amerika Serikat sebelum perang, kata para pejabat. Ketua Parlemen, Ghalibaf, telah mengambil alih kepemimpinan.

Pemimpin tertinggi yang baru dilantik itu mengikuti arahan, jarang sekali atau bahkan tidak pernah keberatan dengan para jenderal, kata para pejabat.

Garda Revolusi-lah yang merancang strategi serangan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk Persia, bersamaan dengan penutupan selat untuk lalu lintas maritim. Merekalah yang menyetujui gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat dan menyetujui diplomasi jalur belakang dan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Mereka menunjuk Ghalibaf dari jajaran mereka sendiri untuk memimpin perundingan dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Islamabad.

Untuk pertama kalinya, beberapa jenderal militer dari Garda Revolusi menjadi bagian dari delegasi Iran yang bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Para pejabat Iran dan tiga orang lainnya yang mengenal Mojtaba Khamenei mengatakan dalam wawancara dari Teheran bahwa sikap hormatnya kepada Garda Revolusi sebagian karena dia masih baru dalam peran kepemimpinan tersebut. Dia kurang memiliki kedudukan politik dan pengaruh keagamaan yang menjadikan ayahnya sebagai kekuatan yang begitu besar. Dan sebagian lagi karena ikatan pribadinya yang mendalam dengan Garda Revolusi.

Ketika Mojtaba berusia 17 tahun, dia secara sukarela ikut berperang dalam perang Iran-Irak. Dia ditempatkan di sebuah brigade Garda Revolusi yang disebut Batalyon Habib. Pengalaman itu membentuknya, dan dia menjalin ikatan seumur hidup. Seiring bertambahnya usia, banyak anggota batalyon tersebut naik pangkat menjadi tokoh militer dan intelijen yang berpengaruh.

Mojtaba menyelesaikan studinya di seminari teologi, mencapai pangkat ayatollah, yang dianggap sebagai cendekiawan dan ahli hukum agama Syiah. Dia bekerja di kompleks milik ayahnya, mengoordinasikan operasi militer dan intelijen untuk ayahnya, peran yang semakin memperkuat hubungannya dengan para jenderal dan kepala intelijen.

Di antara teman dekat Mojtaba dari Batalyon Habib adalah mantan kepala intelijen Garda Revolusi, ulama Hossein Taeb; dan Jenderal Mohsen Rezaei, yang memimpinnya pada tahun 1980-an dan telah dipanggil kembali dari masa pensiunnya. Ghalibaf juga merupakan teman lama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!