AS Mulai Blokade Seluruh Pelabuhan Iran, Perang Bisa Berkobar Lagi

Senin, 13 April 2026 - 09:33 WIB
Anggota parlemen Iran, Mahmoud Nabavian, yang juga menghadiri negosiasi tersebut, mengatakan di X bahwa tuntutan AS yang berlebihan termasuk "pembagian bersama dengan Iran dalam manfaat Selat Hormuz" serta penghapusan uranium yang diperkaya 60 persen milik negara tersebut.

Nicole Grajewski, seorang asisten profesor di Sciences Po’s Center for International Research, mengatakan bahwa blokade AS "bukanlah sinyal paksaan kecil" tetapi lebih dianggap sebagai dimulainya kembali perang secara efektif.

"Hampir Selangkah Lagi"



Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa Teheran hanya "hampir selangkah lagi" dari kesepakatan dengan Washington tetapi dihadapkan dengan "maksimalisme, perubahan target, dan blokade."

Kegagalan perundingan akan meningkatkan kekhawatiran bahwa pertempuran yang kembali terjadi dapat mendorong harga energi lebih tinggi dan semakin merusak pengiriman serta fasilitas minyak dan gas.

Tak lama setelah perdagangan dimulai, harga satu barel West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik sekitar delapan persen menjadi USD104,50, sementara pengiriman Juni untuk patokan internasional Brent naik tujuh persen menjadi USD102.

Pakistan mendesak kedua belah pihak untuk terus mematuhi gencatan senjata sementara.

Namun kekhawatiran telah meningkat bahwa gencatan senjata dapat runtuh, sebagian karena serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, di mana Iran bersikeras bahwa gencatan senjata juga berlaku.

Para pejabat Lebanon dan Israel dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan di Washington pada hari Selasa.

Tamara, seorang kasir berusia 18 tahun di Beirut, mengatakan fokus harus tetap pada Lebanon, di mana serangan Israel menewaskan lebih dari 350 orang pada hari Rabu.

“Kita tidak bisa mengatakan perang telah berhenti karena ada perundingan,” katanya. “Kita tidak boleh melupakan pembantaian yang terjadi.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!