Putin Pemenang Besar dalam Perang Iran vs AS-Israel, Ini Alasannya
Kamis, 12 Maret 2026 - 10:28 WIB
“Rusia dulu dan terus menjadi pemasok minyak dan gas yang andal,” kata juru bicara Putin, Dmitry Peskov, kepada wartawan dalam pernyataan yang terdengar seperti promosi penjualan, menambahkan bahwa permintaan produk energi Rusia telah meningkat.
Sementara itu, ajudan Kremlin, Kirill Dmitriev, dengan sombongnya mem-posting di X dalam serangkaian unggahan bahwa “tsunami guncangan minyak baru saja dimulai", mengkritik keputusan Eropa untuk memutus hubungan dengan energi Rusia sebagai “kesalahan strategis.”
Pada hari Senin, komentator pro-Kremlin menyebarkan artikel Wall Street Journal yang memprediksi harga minyak bisa meroket hingga USD215.
Para pakar energi memperingatkan bahwa masih terlalu dini bagi Moskow untuk mengklaim kemenangan.
Apakah krisis Iran terbukti sebagai obat untuk ekonomi Rusia bergantung langsung pada berapa lama krisis itu berlangsung.
Milov mengatakan bahwa, untuk membuat perbedaan yang berarti bagi perekonomian, Rusia membutuhkan harga minyak untuk tetap berada pada level saat ini selama kurang lebih satu tahun. “Kenaikan harga selama satu atau dua bulan tentu akan membantu, tetapi tidak akan menyelamatkannya,” katanya.
"Lonjakan harga yang singkat hanya akan membantu menunda keputusan-keputusan sulit,” imbuh Vakulenko.
Ada alasan lain mengapa Moskow berharap perang Iran vs AS-Israel berlarut-larut: dengan setiap hari pertempuran, AS mengurangi persediaan senjata yang diandalkan Ukraina untuk mempertahankan diri.
Menurut laporan media-media Barat, Rusia telah memberikan intelijen kepada Iran untuk membantunya menargetkan kapal perang dan pesawat AS.
Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara AS-Israel mungkin telah memberikan pukulan terhadap janji Rusia untuk membela sekutunya, tetapi Putin pada akhirnya mungkin memutuskan bahwa itu adalah harga yang pantas dibayar.
Sementara itu, ajudan Kremlin, Kirill Dmitriev, dengan sombongnya mem-posting di X dalam serangkaian unggahan bahwa “tsunami guncangan minyak baru saja dimulai", mengkritik keputusan Eropa untuk memutus hubungan dengan energi Rusia sebagai “kesalahan strategis.”
Pada hari Senin, komentator pro-Kremlin menyebarkan artikel Wall Street Journal yang memprediksi harga minyak bisa meroket hingga USD215.
Permainan Jangka Panjang
Para pakar energi memperingatkan bahwa masih terlalu dini bagi Moskow untuk mengklaim kemenangan.
Apakah krisis Iran terbukti sebagai obat untuk ekonomi Rusia bergantung langsung pada berapa lama krisis itu berlangsung.
Milov mengatakan bahwa, untuk membuat perbedaan yang berarti bagi perekonomian, Rusia membutuhkan harga minyak untuk tetap berada pada level saat ini selama kurang lebih satu tahun. “Kenaikan harga selama satu atau dua bulan tentu akan membantu, tetapi tidak akan menyelamatkannya,” katanya.
"Lonjakan harga yang singkat hanya akan membantu menunda keputusan-keputusan sulit,” imbuh Vakulenko.
Ada alasan lain mengapa Moskow berharap perang Iran vs AS-Israel berlarut-larut: dengan setiap hari pertempuran, AS mengurangi persediaan senjata yang diandalkan Ukraina untuk mempertahankan diri.
Menurut laporan media-media Barat, Rusia telah memberikan intelijen kepada Iran untuk membantunya menargetkan kapal perang dan pesawat AS.
Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara AS-Israel mungkin telah memberikan pukulan terhadap janji Rusia untuk membela sekutunya, tetapi Putin pada akhirnya mungkin memutuskan bahwa itu adalah harga yang pantas dibayar.
(mas)
Lihat Juga :