Mata Uangnya Runtuh, Ini Cara Cerdas Iran Danai Perang Melawan AS-Israel

Jum'at, 06 Maret 2026 - 14:03 WIB
"Itu adalah intelijen sinyal keuangan real-time," kata Percy. "Sebuah buku besar publik yang dapat dianalisis oleh siapa pun yang memiliki alatnya."

Ini adalah kemampuan yang baru mulai dipahami oleh badan intelijen.

Chainalysis dan Elliptic dapat memetakan klaster dompet, melacak aliran bursa, dan mengaitkan transaksi dengan entitas yang dikenai sanksi. Yang masih kurang adalah doktrin formal untuk mengintegrasikan data tersebut ke dalam keamanan nasional dan penegakan sanksi.

Iran bukanlah satu-satunya negara yang mengeksploitasi celah kripto.

Menurut Laporan Kejahatan Kripto Chainalysis 2026, alamat mata uang kripto ilegal menerima USD154 miliar pada tahun 2025, sebagian besar didorong oleh lonjakan 694% dalam dana yang mengalir ke entitas yang dikenai sanksi.

Rusia memproses USD93 miliar melalui stablecoin yang dikenai sanksi, yang dirancang untuk memindahkan uang di luar sistem dolar. Peretas Korea Utara mencuri USD1,5 miliar dalam satu serangan terhadap bursa kripto, menyalurkan dana tersebut langsung ke program senjata mereka.

Tiga musuh AS. Tiga metode berbeda.

Namun kesimpulan strategis yang sama tetap berlaku. Sistem sanksi global yang dibangun di sekitar dolar memiliki celah berbentuk blockchain, dan saingan Amerika sedang bergerak melaluinya.

Bagi mereka yang membangun infrastruktur di balik teknologi ini, pelajarannya sangat jelas. "Bitcoin tidak peduli siapa presidennya," kata Makar Volcy, yang menjalankan pusat data Bitcoin NRG Bloom yang berbasis di Ontario. "Bitcoin tidak peduli tentang sanksi. Bitcoin hanya bergerak," imbuh dia, seperti dikutip dari NDTV, Jumat (6/3/2026).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!