AS Tuduh China Diam-diam Uji Coba Ledakan Nuklir

Minggu, 08 Februari 2026 - 05:55 WIB
Tomas Nagy, seorang ahli nuklir di lembaga think tank keamanan GLOBSEC di Bratislava, mengatakan Washington telah memilih momen ini untuk mengecam Beijing atas dugaan uji coba rahasia hampir enam tahun yang lalu karena merasa Beijing tidak mungkin bekerja sama dalam masalah ini.

"Ini mencerminkan fakta bahwa Amerika sebenarnya telah memahami sekarang bahwa untuk beberapa tahun ke depan, tidak akan ada kemajuan positif dengan Tiongkok. Jadi mereka memutuskan untuk mengungkapkan informasi ini," katanya dalam sebuah wawancara telepon.

Trump telah mengadakan pembicaraan yang disebutnya "sangat positif" dengan Presiden China Xi Jinping tentang perdagangan dan masalah keamanan yang lebih luas minggu ini dan dijadwalkan mengunjungi Beijing pada bulan April.

Para analis keamanan mengatakan kesepakatan pengendalian senjata nuklir baru akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dinegosiasikan, dengan Rusia dan AS mengembangkan senjata baru dan ketegangan atas Ukraina, Timur Tengah, dan titik-titik rawan lainnya mengakibatkan risiko salah perhitungan yang lebih tinggi.

Terpaksa bergantung pada asumsi terburuk tentang niat pihak lain, AS dan Rusia akan melihat insentif untuk meningkatkan persenjataan mereka, terutama karena China berusaha mengejar ketertinggalan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Moskow lebih memilih untuk berdialog dengan Washington setelah Perjanjian New START berakhir, tetapi siap untuk skenario apa pun. Kremlin mengatakan kedua pihak, dalam pembicaraan di Abu Dhabi minggu ini, telah mencapai pemahaman bahwa mereka berdua akan bertindak secara bertanggung jawab.

Rusia mengatakan sekutu nuklir anggota NATO; Inggris dan Prancis, juga harus siap untuk bernegosiasi—sesuatu yang ditolak oleh negara-negara tersebut.

Di forum Jenewa, Inggris mengatakan China, Rusia, dan AS harus mencapai kesepahaman, menambahkan bahwa mereka berbagi kekhawatiran AS tentang perluasan cepat persenjataan nuklir Beijing. Prancis mengatakan bahwa kesepakatan antara negara-negara dengan persenjataan nuklir terbesar sangat penting di tengah pelemahan norma-norma nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!