Negara NATO: Nasib Rezim Iran Tinggal Menghitung Hari

Kamis, 29 Januari 2026 - 06:24 WIB
Salah satu kelompok hak asasi manusia—Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS—mengatakan bahwa mereka telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian, sebagian besar demonstran yang dibunuh oleh pasukan keamanan, dalam gelombang demonstrasi yang mengguncang kepemimpinan ulama sejak akhir Desember tetapi mencapai puncaknya pada 8-9 Januari.

Para aktivis mengatakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, dengan pemadaman internet yang masih mempersulit upaya untuk mengonfirmasi informasi tentang skala pembunuhan tersebut.

Merz juga mendukung upaya Italia untuk meminta Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai organisasi teroris. “Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap” untuk mendukung penetapan tersebut, kata Merz.

Pada hari yang sama, Trump mengancam Teheran dengan serangan yang jauh lebih buruk daripada serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump memperingatkan bahwa "armada besar" sedang mendekati Iran. "Mereka siap untuk memenuhi misinya dengan cepat dan keras," tulis Trump.

Dia mendesak Teheran untuk membuat kesepakatan tentang masa depan program nuklirnya. "Atau serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," lanjut Trump.

Namun, Iran menolak tunduk pada ancaman Trump. "Jika Trump menyerang lebih dulu, Iran akan memberikan respons yang tepat, bukan respons yang proporsional,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi kepada wartawan.

Gharibabadi menyatakan bahwa respons Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut, dan memperingatkan bahwa Israel juga dapat menderita kerugian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!