Media AS Sebut Hanya Penggemar Berat Trump yang Hadiri Penandatanganan Dewan Perdamaian

Jum'at, 23 Januari 2026 - 13:47 WIB
Presiden AS Donald Trump meresmikan Dewan Perdamaian yang dia bentuk. Foto/via Bloomberg
WASHINGTON - Media Amerika Serikat (AS), Bloomberg, menyindir para pemimpin dunia yang bergabung dengan Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Media itu menyebut para pemimpin dunia yang menghadiri penandatanganan Dewan Perdamaian sebagai penggemar berat Trump.

"Only Trump superfans come for ‘Board of Peace’ signing in Davos [Hanya penggemar berat Trump yang datang untuk penandatanganan 'Dewan Perdamaian' di Davos," bunyi judul laporan Bloomberg, Jumat (23/1/2026).



Laporan itu diawali dengan deskripsi acara penandatanganan. "Sebuah suara dari luar panggung menggema, 'Silakan sambut ketua Dewan Perdamaian!' dan Donald Trump memasuki aula yang sama di Davos tempat dia berpidato di hadapan para elite dunia sehari sebelumnya. Tetapi, yang hadir adalah kumpulan tokoh yang agak berbeda," lanjut laporan Bloomberg.

Baca Juga: Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Harus Bayar Rp16,9 Triliun

"Di antara para pemimpin dunia yang dipanggil adalah Javier Milei yang ikonoklastik, penggemar berat Trump yang selalu tersenyum, dan sejumlah pemimpin yang dalam tatanan dunia yang mengedepankan kekuatan ini lebih tepat disebut sebagai pemimpin otoriter," imbuh laporan itu, mengacu pada Presiden Argentina.

"Ada Prabowo Subianto, mantan jenderal militer, dan Viktor Orban, yang selama beberapa dekade telah mengubah Hongaria menjadi negara yang tidak liberal dan musuh bebuyutan di dalam Uni Eropa," sambung laporan itu, mengacu pada Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Hongaria.

Bloomberg menggambarkan tepuk tangan dari penonton sangat dingin. Suasananya suram.

Menurut laporan itu, bisa dipastikan, Trump merasa nyaman saat menatap para hadirin, yang jumlahnya hampir 20 orang. Di antara wajah-wajah yang mendongak, menunggu dipanggil berpasangan untuk menandatangani piagam, terdapat beberapa perwakilan diplomatik dari kerajaan-kerajaan Timur Tengah dan bekas negara satelit Soviet, mungkin yang paling menjengkelkan adalah Belarusia, yang presidennya yang telah lama menjabat dikenal sebagai "diktator terakhir Eropa."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!