Jet Tempur J-20 China Terkendala Masalah Mesin dan Kemampuan Siluman

Kamis, 25 September 2025 - 08:15 WIB

Stealth dan Sensor Fusion



Hingga kini, sejumlah analis pertahanan masih meragukan berapa banyak J-20 yang sudah benar-benar memakai WS-15 yang matang. Masalah mesin ini membatasi kecepatan supersonik berkelanjutan, menurunkan frekuensi penerbangan, dan meningkatkan beban perawatan. Semua hal tersebut menjadi titik lemah dalam pertempuran intensif.

Kemampuan siluman (stealth) J-20 juga dipertanyakan. Stealth bukan sekadar cat, melainkan kombinasi desain, material, dan integrasi sistem. Ukuran airframe J-20 yang lebih besar dibanding F-22 atau F-35, serta bentuk luarnya, menghasilkan penampang radar (RCS) lebih besar.

Penerbangan publik dan foto-foto yang bocor membuat lawan punya cukup data untuk mengembangkan sensor anti-stealth. Untuk misi penetrasi yang menuntut keunggulan sepersekian detik, RCS lebih besar dan pola operasi yang bisa diprediksi melemahkan klaim keunggulan siluman J-20.

Selain itu, kekuatan F-35 terletak pada sensor fusion dan jaringan data, bukan sekadar kecepatan. Laporan terbuka menunjukkan bahwa meski sensor J-20 terus berkembang, China masih tertinggal dalam integrasi data, ketahanan perang elektronik, dan perangkat lunak yang teruji tempur. Sensor fusion membutuhkan pengalaman panjang, ekosistem pengembangan software yang matang, serta jam terbang dalam skenario kompleks—area yang belum bisa menandingi program AS yang telah puluhan tahun diuji pertempuran.

Keandalan operasional pun jadi masalah. Ekosistem perawatan, rantai pasokan suku cadang, dan pelatihan pilot ala Amerika Serikat dan sekutunya masih sulit disaingi.

‘Setengah Matang’

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!