Profil Anas Al-Sharif, Wartawan Terkenal Al Jazeera yang Tewas Dibom Israel
Senin, 11 Agustus 2025 - 12:10 WIB
Dia memulai kariernya melalui magang di Al-Shamal Media Network sebelum bergabung dengan Al Jazeera sebagai koresponden Gaza utara.
Sejak perang Israel-Hamas pecah di Gaza pada 7 Oktober 2023, Anas menjadi wajah salah satu peliput paling konsisten dari garis depan perang—meliput kekejaman, kelaparan, dan pengusiran, meski menghadapi ancaman langsung dan kehilangan keluarga.
Pada Desember 2023, rumah keluarganya di Jabalia diserang militer Israel. Ayahnya meninggal di tengah ketidakmampuannya untuk mengungsi karena kondisi kesehatan.
Dalam kondisi itu, Anas menyatakan tetap bertahan di Gaza utara—menolak perintah militer Israel untuk mundur—karena merasa membawakan suara rakyat Palestina yang paling sunyi sekaligus paling terpinggirkan.
Anas terus-terusan mendapat ancaman langsung dari Israel, mulai dari panggilan telepon, pesan suara, dan kampanye diskreditasi melalui media sosial, semua ancaman itu menyebutnya sebagai “teroris” tanpa bukti.
Menurut CPJ, kampanye ancaman terhadap Anas itu sebagai "pendahuluan terhadap pembunuhan" dan mendesak perlindungan segera.
Sejak perang Israel-Hamas pecah di Gaza pada 7 Oktober 2023, Anas menjadi wajah salah satu peliput paling konsisten dari garis depan perang—meliput kekejaman, kelaparan, dan pengusiran, meski menghadapi ancaman langsung dan kehilangan keluarga.
Pada Desember 2023, rumah keluarganya di Jabalia diserang militer Israel. Ayahnya meninggal di tengah ketidakmampuannya untuk mengungsi karena kondisi kesehatan.
Dalam kondisi itu, Anas menyatakan tetap bertahan di Gaza utara—menolak perintah militer Israel untuk mundur—karena merasa membawakan suara rakyat Palestina yang paling sunyi sekaligus paling terpinggirkan.
"Jika Kata-kata Ini Sampai Padamu, Israel Telah Membunuhku"
Anas terus-terusan mendapat ancaman langsung dari Israel, mulai dari panggilan telepon, pesan suara, dan kampanye diskreditasi melalui media sosial, semua ancaman itu menyebutnya sebagai “teroris” tanpa bukti.
Menurut CPJ, kampanye ancaman terhadap Anas itu sebagai "pendahuluan terhadap pembunuhan" dan mendesak perlindungan segera.
Lihat Juga :