Batu Ini Terjual Rp86,5 Miliar karena Asalnya dari Mars

Kamis, 17 Juli 2025 - 13:36 WIB
Menurut Sotheby's, batu itu menempuh jarak sekitar 225 juta kilometer melintasi kosmos, mendarat di Bumi, dan akhirnya ditemukan di Gurun Sahara.

Seorang pemburu meteorit menemukan batu yang menghitam tersebut di Niger pada November 2023. Sotheby's mengatakan batu ini sekitar 70 persen lebih besar daripada spesimen Mars terbesar berikutnya yang diketahui dan mewakili hampir 7 persen dari semua material Mars yang pernah ditemukan di Bumi.

"Meteorit Mars ini adalah bongkahan Mars terbesar yang pernah kami temukan," kata Cassandra Hatton, wakil ketua bidang sains dan sejarah alam di Sotheby's.

"Jadi, ukurannya lebih dari dua kali lipat dari yang sebelumnya kami duga sebagai bongkahan Mars terbesar," imbuh dia.

Meteorit ini berukuran hampir 37,5 sentimeter x 27,9 sentimeter x 15,2 sentimeter dan beratnya 24,67 kilogram. Lapisan luarnya yang seperti kaca terbentuk dari panas ekstrem yang dialaminya saat jatuh menembus atmosfer Bumi.

Sebuah sampel kecil dikirim ke laboratorium khusus untuk dianalisis, yang mengonfirmasi asal usulnya dari Mars. Para ilmuwan mencocokkan komposisi kimianya yang unik dengan batuan yang dianalisis oleh wahana pendarat Viking NASA, yang mendarat di Mars pada tahun 1976.

"Itulah petunjuk pertama mereka bahwa ini bukan sekadar batu besar di darat," kata Hatton kepada Associated Press, Kamis (17/7/2025).

Sotheby's mengklasifikasikan meteorit tersebut sebagai jenis batuan vulkanik yang terbentuk dari pendinginan magma Mars yang lambat. Spesimen ini memiliki tekstur kasar dan mengandung mineral pembentuk batuan umum, yaitu piroksen dan olivin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!