Profil Azerbaijan, Negara Mayoritas Muslim tapi Pemasok Minyak ke Israel
Minggu, 13 Juli 2025 - 10:42 WIB
Dominasi budaya Islam yang kuat, khususnya Syiah, menjadikan Azerbaijan unik karena berbeda dari mayoritas negara Turkik lainnya yang berhaluan Sunni.
Namun, pasca-kemerdekaan, Azerbaijan memilih jalur pragmatis: mempererat hubungan dengan Barat, menjaga hubungan strategis dengan Turki, dan membuka diri terhadap investasi asing—terutama di sektor energi.
Hubungan antara Azerbaijan dan Israel tidak hanya berjalan normal, tapi justru erat secara ekonomi dan militer.
Dalam hal energi, Azerbaijan menjadi salah satu pemasok minyak terbesar bagi Israel. Data dari US Energy Information Administration (EIA) dan laporan investigasi dari Reuters dan Haaretz menunjukkan sekitar 40–60% minyak mentah Israel berasal dari Azerbaijan.
Minyak itu dikirim melalui jaringan pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) menuju pelabuhan Ceyhan di Turki, lalu diangkut kapal tanker ke pelabuhan Ashkelon di Israel.
Perusahaan energi nasional Azerbaijan, SOCAR, memainkan peran penting dalam kerja sama ini.
Israel sendiri sangat bergantung pada energi asing, dan Azerbaijan dianggap sebagai pemasok yang "aman secara politik" dibandingkan negara-negara Arab.
Azerbaijan telah berjanji kepada Israel bahwa mereka akan terus memasok minyak ke negara tersebut, meskipun penjualan minyak secara resmi dihentikan tahun lalu, menurut sebuah laporan di Haaretz.
Azerbaijan baru-baru ini menghapus penjualan minyak ke Israel dari catatan bea cukainya, setelah peningkatan ekspor yang stabil dari tahun ke tahun ke negara tersebut, yang mencapai lebih dari satu juta ton pada tahun 2024.
Menurut catatan tersebut, ekspor ke Israel dihentikan pada bulan Oktober di tengah perang di Gaza.
Namun, sumber-sumber Israel mengatakan kepada Haaretz bahwa penjualan terus berlanjut, dan perubahan dalam catatan bea cukai mungkin disebabkan oleh transaksi yang dilakukan kepada pedagang yang terdaftar di negara ketiga.
"Kami menerima janji dari Azerbaijan bahwa hubungan strategis akan berlanjut, termasuk di sektor energi, dan kami tidak perlu khawatir," kata salah satu sumber yang dikutip Haaretz.
Dua sumber Israel mengatakan bahwa penghentian penjualan pada bulan Oktober didorong oleh tekanan dari Turki, sekutu politik dan militer terpenting Azerbaijan.
Tekanan Turki, menurut laporan Haaretz, sebagian disebabkan oleh fakta bahwa minyak Azerbaijan yang diekspor ke Israel diangkut oleh jaringan pipa BTC yang melintasi Turki.
Namun, pasca-kemerdekaan, Azerbaijan memilih jalur pragmatis: mempererat hubungan dengan Barat, menjaga hubungan strategis dengan Turki, dan membuka diri terhadap investasi asing—terutama di sektor energi.
Azerbaijan Pemasok Minyak Utama untuk Israel
Hubungan antara Azerbaijan dan Israel tidak hanya berjalan normal, tapi justru erat secara ekonomi dan militer.
Dalam hal energi, Azerbaijan menjadi salah satu pemasok minyak terbesar bagi Israel. Data dari US Energy Information Administration (EIA) dan laporan investigasi dari Reuters dan Haaretz menunjukkan sekitar 40–60% minyak mentah Israel berasal dari Azerbaijan.
Minyak itu dikirim melalui jaringan pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) menuju pelabuhan Ceyhan di Turki, lalu diangkut kapal tanker ke pelabuhan Ashkelon di Israel.
Perusahaan energi nasional Azerbaijan, SOCAR, memainkan peran penting dalam kerja sama ini.
Israel sendiri sangat bergantung pada energi asing, dan Azerbaijan dianggap sebagai pemasok yang "aman secara politik" dibandingkan negara-negara Arab.
Azerbaijan telah berjanji kepada Israel bahwa mereka akan terus memasok minyak ke negara tersebut, meskipun penjualan minyak secara resmi dihentikan tahun lalu, menurut sebuah laporan di Haaretz.
Azerbaijan baru-baru ini menghapus penjualan minyak ke Israel dari catatan bea cukainya, setelah peningkatan ekspor yang stabil dari tahun ke tahun ke negara tersebut, yang mencapai lebih dari satu juta ton pada tahun 2024.
Menurut catatan tersebut, ekspor ke Israel dihentikan pada bulan Oktober di tengah perang di Gaza.
Namun, sumber-sumber Israel mengatakan kepada Haaretz bahwa penjualan terus berlanjut, dan perubahan dalam catatan bea cukai mungkin disebabkan oleh transaksi yang dilakukan kepada pedagang yang terdaftar di negara ketiga.
"Kami menerima janji dari Azerbaijan bahwa hubungan strategis akan berlanjut, termasuk di sektor energi, dan kami tidak perlu khawatir," kata salah satu sumber yang dikutip Haaretz.
Dua sumber Israel mengatakan bahwa penghentian penjualan pada bulan Oktober didorong oleh tekanan dari Turki, sekutu politik dan militer terpenting Azerbaijan.
Tekanan Turki, menurut laporan Haaretz, sebagian disebabkan oleh fakta bahwa minyak Azerbaijan yang diekspor ke Israel diangkut oleh jaringan pipa BTC yang melintasi Turki.
Lihat Juga :