Serangan India Ungkap Kelemahan Senjata Pakistan yang Diimpor dari China
Sabtu, 24 Mei 2025 - 11:03 WIB
Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), China menyumbang 5,9 persen dari ekspor senjata global antara 2020 dan 2024, sedikit turun dari periode lima tahun sebelumnya.
Namun, hampir dua pertiga dari ekspor tersebut hanya ditujukan ke satu negara: Pakistan.
Sementara China bertujuan untuk memperluas jejaknya dalam perdagangan pertahanan global, banyak importir utama masih menghindari senjata China karena alasan politik dan teknis. Hasil konflik India-Pakistan mungkin telah mengungkap alasannya, tulis Economic Times dalam laporannya.
Baca Juga: Pengakuan Langka PM Sharif: India Merudal Pangkalan Udara Nur Khan Pakistan
Para pengamat menunjuk pada dua kemungkinan: baik itu China memasok Pakistan dengan peralatan di bawah standar, atau persenjataannya lebih rendah kualitasnya dibandingkan campuran sistem dalam negeri dan impor dari Rusia, Israel, dan negara-negara Barat.
Bagi China, yang telah lama bercita-cita menantang dominasi Barat dan Rusia di pasar ekspor pertahanan, episode ini merupakan krisis reputasi.
Kredibilitas sistemnya—terutama yang ditawarkan kepada pembeli di Afrika, Asia, dan Amerika Latin—kini menghadapi pengawasan global.
Kecuali Beijing mengatasi masalah kinerja dan keandalan ini, terutama yang terungkap di medan perang, ambisinya untuk menjadi eksportir senjata papan atas kemungkinan besar tidak akan terwujud.
Selama dua dekade terakhir, China telah menjadi eksportir senjata terbesar keempat di dunia, hanya di belakang Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis.
Meskip demikian, masalah kinerja yang serius telah menghambat ambisi China. Myanmar, misalnya, menghentikan sebagian besar jet tempur China-nya karena kinerja radar yang buruk dan cacat yang belum teratasi bertahun-tahun setelah pengiriman.
Nigeria terpaksa mengembalikan tujuh dari sembilan jet tempur Chengdu F-7 karena masalah perawatan. Bahkan Pakistan, mitra strategis terdekat China, melaporkan masalah kritis pada fregat F-22P buatan China, termasuk kegagalan mesin, kesalahan sensor, dan cacat pada kendali rudal.
Namun, hampir dua pertiga dari ekspor tersebut hanya ditujukan ke satu negara: Pakistan.
Sementara China bertujuan untuk memperluas jejaknya dalam perdagangan pertahanan global, banyak importir utama masih menghindari senjata China karena alasan politik dan teknis. Hasil konflik India-Pakistan mungkin telah mengungkap alasannya, tulis Economic Times dalam laporannya.
Baca Juga: Pengakuan Langka PM Sharif: India Merudal Pangkalan Udara Nur Khan Pakistan
Para pengamat menunjuk pada dua kemungkinan: baik itu China memasok Pakistan dengan peralatan di bawah standar, atau persenjataannya lebih rendah kualitasnya dibandingkan campuran sistem dalam negeri dan impor dari Rusia, Israel, dan negara-negara Barat.
Bagi China, yang telah lama bercita-cita menantang dominasi Barat dan Rusia di pasar ekspor pertahanan, episode ini merupakan krisis reputasi.
Kredibilitas sistemnya—terutama yang ditawarkan kepada pembeli di Afrika, Asia, dan Amerika Latin—kini menghadapi pengawasan global.
Kecuali Beijing mengatasi masalah kinerja dan keandalan ini, terutama yang terungkap di medan perang, ambisinya untuk menjadi eksportir senjata papan atas kemungkinan besar tidak akan terwujud.
Ekspor Senjata China Terancam
Selama dua dekade terakhir, China telah menjadi eksportir senjata terbesar keempat di dunia, hanya di belakang Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis.
Meskip demikian, masalah kinerja yang serius telah menghambat ambisi China. Myanmar, misalnya, menghentikan sebagian besar jet tempur China-nya karena kinerja radar yang buruk dan cacat yang belum teratasi bertahun-tahun setelah pengiriman.
Nigeria terpaksa mengembalikan tujuh dari sembilan jet tempur Chengdu F-7 karena masalah perawatan. Bahkan Pakistan, mitra strategis terdekat China, melaporkan masalah kritis pada fregat F-22P buatan China, termasuk kegagalan mesin, kesalahan sensor, dan cacat pada kendali rudal.
Lihat Juga :