Meski Bersitegang, AS Tidak Akan Tinggalkan NATO, Berikut 3 Alasannya
Jum'at, 04 April 2025 - 06:10 WIB
Baca Juga: Kemlu Respons Penerapan Tarif Resiprokal AS pada Indonesia Sebesar 32%
Negara-negara anggota Eropa Timur seperti Estonia dan Polandia telah mendukung tuntutan AS - dengan Estonia telah berkomitmen untuk 3,7% dari PDB dan Polandia menargetkan 4,7%. Namun, negara-negara ekonomi utama Uni Eropa, seperti Italia dan Jerman, telah mengkritik target 5% sebagai tidak realistis, dengan alasan tekanan fiskal.
Retorika NATO Trump telah mendorong Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk mengusulkan rencana 'persenjataan ulang' untuk meningkatkan pengeluaran militer melalui pinjaman. Namun, negara-negara Eropa Selatan dilaporkan telah menolak inisiatif tersebut, dengan menyuarakan "keraguan serius" tentang mengambil utang tambahan.
2. AS Tidak Menentang NATO
Ia melanjutkan dengan menekankan bahwa Trump “tidak menentang NATO” tetapi menentang blok “yang tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkannya untuk memenuhi kewajiban” berdasarkan perjanjian pendiriannya.3. Menuntut Anggota NATO Berkomitmen 5% untuk Pertahanan
Rubio menegaskan bahwa “setiap” anggota NATO harus menyetujui “jalur yang realistis” untuk akhirnya berkomitmen 5% dari PDB-nya untuk pertahanan, namun itu mungkin memakan waktu bertahun-tahun.Negara-negara anggota Eropa Timur seperti Estonia dan Polandia telah mendukung tuntutan AS - dengan Estonia telah berkomitmen untuk 3,7% dari PDB dan Polandia menargetkan 4,7%. Namun, negara-negara ekonomi utama Uni Eropa, seperti Italia dan Jerman, telah mengkritik target 5% sebagai tidak realistis, dengan alasan tekanan fiskal.
Retorika NATO Trump telah mendorong Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk mengusulkan rencana 'persenjataan ulang' untuk meningkatkan pengeluaran militer melalui pinjaman. Namun, negara-negara Eropa Selatan dilaporkan telah menolak inisiatif tersebut, dengan menyuarakan "keraguan serius" tentang mengambil utang tambahan.
(ahm)
Lihat Juga :