Kapal Perusak AS Tinggalkan Laut Merah, Houthi Tebar Ancaman Tak Terbayangkan

Selasa, 14 Mei 2024 - 21:07 WIB
“Saya sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan tim Carney sejak September,” ujar Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Lisa Franchetti pada upacara penyambutan kapal perang tersebut ke Norfolk.

“Dipanggil untuk bertindak pada hari pertama Anda memasuki Armada ke-5 AS, Anda melakukan 51 pertempuran dalam 6 bulan,” papar laksamana tersebut.

Angkatan Laut tidak merinci kapan tepatnya Carney meninggalkan Laut Merah sebelum memulai perjalanan panjang melintasi Atlantik.

Setelah pasokan ulang di Norfolk, kapal perang tersebut diperkirakan akan berlayar ke pangkalannya di Naval Station Mayport di luar Jacksonville, Florida.

USS Carney adalah kapal perang terbaru dari dua koalisi Barat yang terpisah, Operation Prosperity Guardian yang dipimpin AS-Inggris dan Operation Aspides dari Uni Eropa, yang meninggalkan Laut Merah dan pulang.

Bulan lalu, kapal fregat Angkatan Laut Jerman Hessen meninggalkan wilayah tersebut dan berlayar kembali ke Jerman ketika Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menjanjikan jalur yang aman bagi negara-negara Eropa jika mereka “tidak menuju musuh Israel.”

Sejauh ini operasi yang dipimpin UE jauh lebih tidak agresif dibandingkan operasi yang dipimpin AS dan Inggris, dengan kapal perang UE tidak menyerang sasaran di Yaman.

Ketua Subkomite Angkatan Bersenjata Senat untuk Pasukan Strategis Angus King memperingatkan pada sidang pekan lalu bahwa pertahanan rudal AS telah terbukti sangat mahal dan tidak efektif, tidak hanya untuk melawan musuh strategis seperti Rusia, China, dan Iran, tetapi bahkan melawan Houthi, yang memiliki kemampuan menghasilkan kekuatan.

Rudal dan drone murah sangat kontras dengan harga pencegat rudal Amerika yang dirancang untuk menghentikan mereka.

“Satu rudal untuk mencegat rudal (strategis) yang masuk bernilai USD80 juta,” ujar King kepada para pejabat Departemen Pertahanan.

“Di Laut Merah, Houthi mengirimkan drone senilai USD20,000 dan kita menembak jatuh mereka dengan rudal yang menelan biaya USD4,3 juta. Perhitungannya tidak berhasil, Tuan-tuan. Itu tidak berhasil. Apa yang kalian pikirkan?” Tanya King, penganjur pertahanan berbasis senjata energi terarah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!