Rusia: AS Akan Dipermalukan di Ukraina Seperti di Vietnam!

Senin, 22 April 2024 - 08:10 WIB
Ukraina selama berbulan-bulan telah meminta Amerika Serikat untuk mengeluarkan lebih banyak uang dan senjata untuk membantu mereka berperang, meskipun para pejabat Rusia telah menegaskan bahwa bantuan Amerika tidak akan mengubah arah akhir perang.

"Rakyat biasa Ukraina didorong secara paksa untuk dibantai sebagai umpan meriam, namun Amerika Serikat kini tidak lagi bertaruh pada kemenangan Ukraina melawan Rusia," kata Zakharova.

Washington, katanya, berharap Ukraina dapat bertahan hingga pemilihan presiden AS pada bulan November.

Paket legislatif AS mencakup langkah-langkah yang memungkinkan AS menyita aset-aset Rusia senilai miliaran dolar yang dibekukan akibat sanksi yang dikenakan terhadap Moskow.

Hal itu, kata Zakharova, hanyalah “pencurian”, seraya menambahkan bahwa penerima manfaat sebenarnya dari keseluruhan paket ini adalah perusahaan pertahanan AS.

Para pemimpin negara-negara Barat dan Ukraina telah menggambarkan perang di Ukraina sebagai perampasan tanah bergaya imperial yang menunjukkan bahwa Rusia pasca-Soviet adalah salah satu dari dua ancaman negara terbesar terhadap stabilitas global, bersama dengan China.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan perang tersebut sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan AS, yang menurutnya mengabaikan kepentingan Moskow setelah pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991 dan kemudian berencana untuk memecah belah Rusia dan merampas sumber daya alamnya.

Negara-negara Barat menyangkal bahwa mereka ingin menghancurkan Rusia, dan pada gilirannya menyangkal bahwa mereka bermaksud untuk menyerang negara anggota NATO mana pun.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!