Militer Israel: Pemimpin Hamas Yahya Sinwar Adalah Orang yang Menanti Ajal
Rabu, 29 November 2023 - 17:50 WIB
Pemerintah Hamas di Gaza mengatakan serangan udara dan darat yang dilancarkan Israel sebagai respons terhadap serangan 7 Oktober telah menewaskan hampir 15.000 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.
Sinwar memimpikan satu negara Palestina yang menyatukan Jalur Gaza dan Tepi Barat—wilayah yang diduduki Israel dan dikendalikan oleh partai Fatah pimpinan Mahmoud Abbas—dan beribu kota di Yerusalem timur.
Menurut lembaga think tank Amerika Serikat (AS), Council on Foreign Relations, dia telah berjanji untuk menghukum siapa pun yang menghalangi rekonsiliasi dengan Fatah, gerakan politik saingan Hamas yang terlibat dalam pertikaian antar faksi setelah pemilu Palestina tahun 2006.
Upaya untuk mencapai kesepakatan masih sulit dicapai, namun pembebasan tahanan akibat perjanjian gencatan senjata dengan Israel telah membuat popularitas Hamas melonjak di Tepi Barat.
"Sinwar telah menempuh jalur menjadi radikal dalam perencanaan militer dan pragmatis dalam politik," kata Seurat.
“Dia tidak menganjurkan kekerasan demi kekerasan, namun untuk melakukan negosiasi dengan Israel," katanya lagi.
Pemimpin Hamas tersebut dimasukkan ke dalam daftar teroris internasional yang paling dicari AS pada tahun 2015, begitu pula Mohammed Deif, komandan Brigade Izz ad-Din al-Qassam saat ini dan tersangka lain yang menjadi dalang serangan 7 Oktober.
Sumber keamanan di luar Gaza mengatakan Sinwar dan Deif berlindung di jaringan terowongan yang dibangun di bawah wilayah tersebut untuk menahan bom Israel.
Awal bulan ini, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bersumpah untuk “menemukan dan melenyapkan” Sinwar, mendesak warga Gaza untuk menyerahkan Sinwar. "Jika Anda berhasil mencapai dia sebelum kami, hal itu akan mempersingkat perang," katanya.
Sinwar memimpikan satu negara Palestina yang menyatukan Jalur Gaza dan Tepi Barat—wilayah yang diduduki Israel dan dikendalikan oleh partai Fatah pimpinan Mahmoud Abbas—dan beribu kota di Yerusalem timur.
Menurut lembaga think tank Amerika Serikat (AS), Council on Foreign Relations, dia telah berjanji untuk menghukum siapa pun yang menghalangi rekonsiliasi dengan Fatah, gerakan politik saingan Hamas yang terlibat dalam pertikaian antar faksi setelah pemilu Palestina tahun 2006.
Upaya untuk mencapai kesepakatan masih sulit dicapai, namun pembebasan tahanan akibat perjanjian gencatan senjata dengan Israel telah membuat popularitas Hamas melonjak di Tepi Barat.
"Sinwar telah menempuh jalur menjadi radikal dalam perencanaan militer dan pragmatis dalam politik," kata Seurat.
“Dia tidak menganjurkan kekerasan demi kekerasan, namun untuk melakukan negosiasi dengan Israel," katanya lagi.
Pemimpin Hamas tersebut dimasukkan ke dalam daftar teroris internasional yang paling dicari AS pada tahun 2015, begitu pula Mohammed Deif, komandan Brigade Izz ad-Din al-Qassam saat ini dan tersangka lain yang menjadi dalang serangan 7 Oktober.
Sumber keamanan di luar Gaza mengatakan Sinwar dan Deif berlindung di jaringan terowongan yang dibangun di bawah wilayah tersebut untuk menahan bom Israel.
Awal bulan ini, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bersumpah untuk “menemukan dan melenyapkan” Sinwar, mendesak warga Gaza untuk menyerahkan Sinwar. "Jika Anda berhasil mencapai dia sebelum kami, hal itu akan mempersingkat perang," katanya.
(mas)
Lihat Juga :