5 Alasan Latihan Perang Combat Brotherhood-2023 Memaksa NATO Siaga Penuh

Sabtu, 02 September 2023 - 03:05 WIB
Selain itu, latihan ini bertujuan untuk mengasah keterampilan praktis dan kemampuan para komandan dalam memimpin unit dan subunit militer selama pertempuran dan operasi khusus. Tugas yang sangat penting dari latihan ini adalah mengembangkan kualitas moral dan tempur yang tinggi, ketahanan psikologis, dan fisik

"Combat Brotherhood 2023 adalah latihan yang direncanakan," kata Sekretaris Negara Dewan Keamanan Belarus Alexander Volfovich. Dia menambahkan bahwa baik Minsk dan mitra Belarusia di CSTO, tidak seperti negara-negara Barat, selalu melakukan latihan semacam itu dalam format terbuka, dengan mengikuti pada doktrin militer defensif.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengungkapkan Rusia tidak melihat Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) sebagai musuh NATO dan ingin blok Eurasia fokus melindungi negara-negara anggotanya.

“Saya tidak berpikir bahwa kita harus membentuk kembali CSTO menjadi sebuah blok yang menentang siapa pun. CSTO telah berkembang berdasarkan kepentingan keamanan negara-negara anggotanya. CSTO tidak mencari peran utama di benua Eurasia,” kata Lavrov .

5. CSTO Tetap Jadi Ancaman NATO



Foto/Sputnik

Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, mengecam negara-negara NATO karena terlibat dalam latihan provokatif di dekat perbatasan negaranya, yang mereka benarkan dengan dugaan “ancaman” yang berasal dari Belarusia

“Negara-negara NATO terus-menerus mempromosikan kebijakan ekspansi mereka, membangun kehadiran militer di sekitar Belarus, terus-menerus melakukan latihan provokatif di perbatasan kami,” kantor berita BelTA mengutip pernyataan presiden pada pertemuan Dewan Keamanan negara tersebut.

Lukashenko mengatakan bahwa, “para pemimpin Polandia dan negara-negara Baltik menuduh Belarusia memiliki niat agresif yang bersifat mitos,” padahal sebenarnya merekalah yang “meningkatkan anggaran militer, menarik formasi militer besar ke perbatasan kita.”

Pemimpin Belarusia menekankan bahwa, "baik di Polandia, Lituania, maupun negara-negara Baltik lainnya tidak boleh ada satu pun prajurit asing." Hanya dalam hal ini, tambahnya, negara-negara tersebut dapat membuat klaim tentang kehadiran personel militer dari negara lain di wilayah Belarus.

Meski demikian, Alexander Lukashenko menyatakan kesiapan Belarus untuk memulihkan hubungan baik dengan negara tetangganya, dan pada saat yang sama menyatakan bahwa, hingga saat ini, tanggapan yang diberikan hanya berupa “tuduhan dan ancaman.”
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!