4 Negara Musuh AS Paling Berbahaya, 3 di Antaranya Punya Bom Nuklir

Sabtu, 17 Juni 2023 - 14:26 WIB
Dia menyebutkan daftar panjang dugaan pelanggaran ringan oleh Beijing termasuk spionase, penargetan warga negara China di AS serta terlibat dalam praktik perdagangan yang tidak adil. “China terlibat dalam upaya seluruh negeri untuk menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia dengan segala cara yang diperlukan,” katanya saat itu.

Di ranah militer, Beijing menjadi bagian dari kekuataan nuklir dunia dengan memiliki sekitar 350 hulu ledak nuklir. China tidak terikat perjanjian kontrol senjata nuklir dengan pihak mana pun.

Beijing juga bersaing dengan Amerika dalam pengembangan senjata hipersonik dan jet tempur generasi keenam.

Kedua negara saat ini berseteru di berbagai masalah, seperti krisis Laut China Selatan, krisis Taiwan, sengketa dagang, spionase, hingga masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Washington telah berkali-kali menjatuhkan sanksi terhadap para pejabat dan enitas Beijing, termasuk Menteri Pertahanan China Jenderal Li Shangfu.

2. Rusia



Permusuhan AS dan Rusia seperti warisan permusuhan dari Perang Dingin, yang kala itu Rusia masih menjadi Uni Soviet.

Sekarang, permusuhan keduanya semakin memanas setelah Amerika dan sekutunya nyaris tanpa henti memasok senjata ke Ukraina—negara yang sedang diinvasi Rusia.

Washington telah berkali-kali menjatuhkan sanksi terhadap para pejabat, entitas, dan oligarki Moskow terkait invasi Rusia ke Ukraina.

Aksi spionase dana saling usir diplomat kerap dilakukan kedua pihak.

Kedua negara juga bersaing di bidang militer. Pengembangan senjata nuklir, jet tempur siluman, rudal hipersonik dan persenjataan lainnya semakin gencar dilakukan Moskow dan Washington.

Rusia diperkirakan memiliki 6.257 hulu ledak nuklir, lebih banyak dari yang dimiliki AS sekitar 5.550.

3. Korea Utara



AS telah tanpa henti memusuhi Korea Utara sejak Perang Korea 1950-an. Gencatan senjata yang tidak nyaman mulai berlaku pada tahun 1953 menciptakan dua Korea—Korea Utara yang sosialis dan Korea Selatan yang pro Washington.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!