Pandemi Corona Picu Konflik Sosial di Beberapa Negara

Jum'at, 17 Juli 2020 - 10:15 WIB
Sampai kemarin, petugas keamanan Belgia setidaknya menangkap 18 orang setelah terjadi kerusuhan di beberapa titik. Mereka menyamakan pemerintahan Borissov mirip dengan lintah darat, seperti mafia dan menjadikan rakyat sebagai tumbal.

Bulgaria merupakan negara anggota Uni Eropa (UE) yang menderita kemiskinan dan korupsi. Protes dan tuntutan hukum terhadap koruptor tidak hanya terjadi kali ini, tapi beberapa tahun sebelumnya. Namun, sampai sekarang tidak ada pejabat senior yang didakwa tuduhan korupsi.

Kemarahan publik pecah setelah Kejaksaan Agung mengirimkan petugas untuk menggeledah kantor staf Presiden Rumen Radev, pengkritik paling vokal pemerintahan Borissov. Sebagian orang menilai penggeledahan itu merupakan bagian dari pembungkaman.

Di hadapan khalayak umum, Radev mengatakan masyarakat sudah lelah dan jenuh dengan pemerintahan Borissov dan menuntut Borissov mengundurkan diri. Desakan yang sama juga dilayangkan kepada Kejaksaan Agung yang dituduh diisi para pendukung Borissov.

Borissov telah menduduki kursi kekuasaan untuk ketiga kalinya pada 2017 silam. Dia sangat bangga dengan capaiannya membangun infrastruktur jalan raya, meningkatkan pendapatan rakyat, dan menjadikan Bulgaria sebagai kompetitor baru di Benua Biru. Dia juga tak ingin mundur dari jabatannya.

"Kami telah memberikan banyak hasil nyata yang memuaskan dan kami sudah berupaya sekuat tenaga. Tidak ada yang menahan kami tetap berada di istana selain karena tanggung jawab," kata Borissov, dikutip Reuters.

Partai GERB menyatakan Radev yang terpilih menjadi presiden akibat dukungan pihak sosialis berupaya menciptakan kerusuhan politik. Berdasarkan hasil jajak pendapat, GERB masih menjadi partai paling populer di kalangan masyarakat Bulgaria. Pemilihan umum (pemilu) berikutnya akan digelar pada musim semi 2021 mendatang. Dengan popularitas setinggi sekarang, GERB tampaknya tidak akan bergeming.

Di wilayah lain di pantai Laut Hitam, masyarakat melakukan demo untuk menuntut akses terhadap pantai. Demo itu terjadi beberapa waktu setelah kepala partai liberal dihadang pasukan bersenjata National Protection Service, pengawal Ahmed Dogan, anggota senior partai MRF.

Ribuan warga Israel juga menggelar unjuk rasa di Tel Aviv setelah pemerintah dianggap gagal menanggulangi dan mengantisipasi dampak ekonomi akibat Covid-19. Sebagai bagian dari penerapan lockdown yang dikawal ketat polisi, pendemo masuk ke wilayah Rabin Square secara bergantian. Selain itu, mereka mengenakan masker.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!