SBY di New York: RI Siap Tahan Laju Perubahan Iklim
Kamis, 25 September 2014 - 11:47 WIB
SBY di New York: RI Siap Tahan Laju Perubahan Iklim
A
A
A
NEW YORK - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pidato dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB di New York. SBY menyatakan, Indonesia siap melipatgandakan upaya untuk menahan laju perubahan iklim.
Pidato SBY itu disampaikan di Sesi Plenary 1UN Climate Summit 2014: Catalizing Action, Sidang Majelis Umum PBB. SBY berbicara di depan lebih dari 40 kepala negara dan kepala pemerintahan,
“Kita harus melipatgandakan upaya kita dalam kerja sama multilateral untuk memfinalisasi perjanjian yang mengikat secara hukum pasca-2020,” kata Presiden SBY.
Indonesia, lanjut SBY, sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas sebanyak 26 persen pada 2020. Tidak hanya itu, dengan dukungan masyarakat internasional, Indonesia berencana untuk menurunkan emisi gas sampai dengan 41 persen.
Indonesia juga sudah menghentikan pemberian lisensi baru untuk hutan primer maupun lahan gambut sejak moratorium pada tahun 2011.
Presiden menekankan bahwa usaha mitigasi perubahan iklim tidak hanya bertujuan untuk menyelamatkan hutan hujan, tapi juga mensejahterakan masyarakat lokal yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup.
”Kami sangat senang untuk mengumumkan bahwa dengan kerja sama yang erat dengan pemerintahan Norwegia, kami tidak hanya berhasil mereduksi emisi tapi juga meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal,” imbuh SBY dalam rilis Kementerian Luar Negeri yang diterima Sindonews, Kamis (25/9/2014).
Pidato SBY itu disampaikan di Sesi Plenary 1UN Climate Summit 2014: Catalizing Action, Sidang Majelis Umum PBB. SBY berbicara di depan lebih dari 40 kepala negara dan kepala pemerintahan,
“Kita harus melipatgandakan upaya kita dalam kerja sama multilateral untuk memfinalisasi perjanjian yang mengikat secara hukum pasca-2020,” kata Presiden SBY.
Indonesia, lanjut SBY, sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas sebanyak 26 persen pada 2020. Tidak hanya itu, dengan dukungan masyarakat internasional, Indonesia berencana untuk menurunkan emisi gas sampai dengan 41 persen.
Indonesia juga sudah menghentikan pemberian lisensi baru untuk hutan primer maupun lahan gambut sejak moratorium pada tahun 2011.
Presiden menekankan bahwa usaha mitigasi perubahan iklim tidak hanya bertujuan untuk menyelamatkan hutan hujan, tapi juga mensejahterakan masyarakat lokal yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup.
”Kami sangat senang untuk mengumumkan bahwa dengan kerja sama yang erat dengan pemerintahan Norwegia, kami tidak hanya berhasil mereduksi emisi tapi juga meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal,” imbuh SBY dalam rilis Kementerian Luar Negeri yang diterima Sindonews, Kamis (25/9/2014).
(mas)