Hadapi Demonstran, Ribuan Pasukan Thailand Dikerahkan
Minggu, 01 Juni 2014 - 10:22 WIB
Hadapi Demonstran, Ribuan Pasukan Thailand Dikerahkan
A
A
A
BANGKOK - Junta militer Thailand mengerahkan ribuan tentara dan polisi untuk menghentikan demonstrasi di berbagai wilayah di Bangkok pada Minggu (1/6/2014).
Pusat perbelanjaan dan beberapa stasiun kereta api yang biasanya jadi lokasi berkumpulnya para demonstran telah ditutup.
Militer telah mengambil alih kekuasaan pada 22 Mei 2014. Setelah melakukan kudeta, militer juga memaksa sejumlah kementerian tutup selama berminggu-minggu. Hal itu membuat ekonomi Thailand terpuruk.
Pada hari ini, aparat keamanan Thailand siaga untuk menghadapi demonstran. Militer sendiri sebelumnya telah mengeluarkan larangan bagi demonstran untuk tidak berkumpul lebih dari lima orang.
Wakil Kepala Polisi Thailand, Somyot Poompanmoung, mengatakan kepada Reuters, bahwa 5.700 polisi dan tentara dikirim ke daerah-daerah untuk menghentikan demonstrasi. Dia membenarkan adanya penutupan mal dan beberapa stasiun kereta api.
”Ini adalah pusat bisnis dan kita perlu menghindari kerusakan, jika pihak berwenang memecah sebuah pertemuan (demonstran),” kata Somyot. Dia memahami, hal itu juga dikeluhkan para pemilik mal, karena usahanya merugi akibat situasi genting di Bangkok.
Pusat perbelanjaan dan beberapa stasiun kereta api yang biasanya jadi lokasi berkumpulnya para demonstran telah ditutup.
Militer telah mengambil alih kekuasaan pada 22 Mei 2014. Setelah melakukan kudeta, militer juga memaksa sejumlah kementerian tutup selama berminggu-minggu. Hal itu membuat ekonomi Thailand terpuruk.
Pada hari ini, aparat keamanan Thailand siaga untuk menghadapi demonstran. Militer sendiri sebelumnya telah mengeluarkan larangan bagi demonstran untuk tidak berkumpul lebih dari lima orang.
Wakil Kepala Polisi Thailand, Somyot Poompanmoung, mengatakan kepada Reuters, bahwa 5.700 polisi dan tentara dikirim ke daerah-daerah untuk menghentikan demonstrasi. Dia membenarkan adanya penutupan mal dan beberapa stasiun kereta api.
”Ini adalah pusat bisnis dan kita perlu menghindari kerusakan, jika pihak berwenang memecah sebuah pertemuan (demonstran),” kata Somyot. Dia memahami, hal itu juga dikeluhkan para pemilik mal, karena usahanya merugi akibat situasi genting di Bangkok.
(mas)