Pertumpahan darah di Odessa tanggung jawab Kiev & Barat
Sabtu, 03 Mei 2014 - 17:05 WIB
Pertumpahan darah di Odessa tanggung jawab Kiev & Barat
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Rusia, Vladimir Putin melalui juru bicaranya menuntut Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat pendukung Kiev bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Odessa, Ukraina tenggara.
Dalam pertumpahan darah semalam, lebih dari 40 orang tewas. Sebagian besar berasal dari kelompok lokal pro-Rusia atau massa anti-Kiev. Dmitry Peskov—jurubicara Putin---, mengatakan, mustahil bagi Kiev dan negara-negara Barat bisa meyakinkan penduduk lokal untuk meletakkan senjata, karena nyawa mereka terancam. (Baca:Pertumpahan darah kembali pecah di Ukraina, puluhan tewas)
Peskov yang mengutip keterangan Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengecam pertumpahan darah di Odessa. Dalam keterangannya, kementerian itu menyatakan massa radikal pro-Kiev menyerang kamp-kamp demonstran lokal. Mereka kemudian mengamuk dan membakar gedung serikat buruh, di mana beberapa aktivis anti-Kiev dibakar hidup-hidup. Sebagian lagi tewas karena tercekik, dan karena melompat ke jendela.
”Pihak berwenang di Kiev tidak hanya memikul tanggung jawab langsung, tetapi terlibat dalam kegiatan kriminal. Lengan mereka yang sampai siku berlumuran darah,” kata Peskov, seperti dilansir Russia Today, Sabtu (3/5/2014).
Apa yang terjadi di Odessa, ujar Peskov, adalah hasil dari otoris di Kiev. ”Mereka memungkinkan ekstremis dan radikal untuk membakar orang hidup-hidup. Saya menekankan bahwa orang-orang ini (korban) tidak bersenjata,” ujar Peskov. (Baca juga: Gedung dibakar, massa anti-Kiev dibakar hidup-hidup)
Peskov mengutuk kubu Washington dan sejumlah negara Eropa yang didorong oleh perasaan sinisme terhadap demonsran lokal anti-Kiev. ”Ini adalah manifestasi tertinggi sinisme. Orang-orang yang membenarkan operasi hukuman ini adalah orang-orang yang sama, yang tidak memungkinkan presiden sah Ukraina, Viktor Yanukovich, untuk memimpin negaranya,” lanjut dia menyidir operasi khusus yang dilakukan kelompok radikal saat menggulingkan Yanukovych.
Sebaliknya, Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Danylo Lubkivsky, kepada BBC menyalahkan pihak Rusia dalam pertumpahan darah tersebut. ”Situasi masih terkendali. Tapi situasi keamanan terancam oleh agen khusus Rusia,” katanya.
Dalam pertumpahan darah semalam, lebih dari 40 orang tewas. Sebagian besar berasal dari kelompok lokal pro-Rusia atau massa anti-Kiev. Dmitry Peskov—jurubicara Putin---, mengatakan, mustahil bagi Kiev dan negara-negara Barat bisa meyakinkan penduduk lokal untuk meletakkan senjata, karena nyawa mereka terancam. (Baca:Pertumpahan darah kembali pecah di Ukraina, puluhan tewas)
Peskov yang mengutip keterangan Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengecam pertumpahan darah di Odessa. Dalam keterangannya, kementerian itu menyatakan massa radikal pro-Kiev menyerang kamp-kamp demonstran lokal. Mereka kemudian mengamuk dan membakar gedung serikat buruh, di mana beberapa aktivis anti-Kiev dibakar hidup-hidup. Sebagian lagi tewas karena tercekik, dan karena melompat ke jendela.
”Pihak berwenang di Kiev tidak hanya memikul tanggung jawab langsung, tetapi terlibat dalam kegiatan kriminal. Lengan mereka yang sampai siku berlumuran darah,” kata Peskov, seperti dilansir Russia Today, Sabtu (3/5/2014).
Apa yang terjadi di Odessa, ujar Peskov, adalah hasil dari otoris di Kiev. ”Mereka memungkinkan ekstremis dan radikal untuk membakar orang hidup-hidup. Saya menekankan bahwa orang-orang ini (korban) tidak bersenjata,” ujar Peskov. (Baca juga: Gedung dibakar, massa anti-Kiev dibakar hidup-hidup)
Peskov mengutuk kubu Washington dan sejumlah negara Eropa yang didorong oleh perasaan sinisme terhadap demonsran lokal anti-Kiev. ”Ini adalah manifestasi tertinggi sinisme. Orang-orang yang membenarkan operasi hukuman ini adalah orang-orang yang sama, yang tidak memungkinkan presiden sah Ukraina, Viktor Yanukovich, untuk memimpin negaranya,” lanjut dia menyidir operasi khusus yang dilakukan kelompok radikal saat menggulingkan Yanukovych.
Sebaliknya, Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Danylo Lubkivsky, kepada BBC menyalahkan pihak Rusia dalam pertumpahan darah tersebut. ”Situasi masih terkendali. Tapi situasi keamanan terancam oleh agen khusus Rusia,” katanya.
(mas)