Obama & Merkel hukum Rusia jika kacaukan pemilu di Ukraina
Sabtu, 03 Mei 2014 - 12:17 WIB
Obama & Merkel hukum Rusia jika kacaukan pemilu di Ukraina
A
A
A
Sindonews.com-Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengancam akan menghukum Rusia dengan sanksi tambahan. Ancaman itu menjadi peringatan bagi Rusia jika Moskow mengacaukan pemilu Ukraina, 25 Mei 2014 nanti.
Obama dan Merkel mengadakan pertemuan khusus di Gedung Putih kemarin untuk membahas krisis Ukraina yang tidak kunjung reda. Merkel sendiri menolak solusi militer dalam penyelesaian krisis Ukraina.
Peemilu Ukraina nanti digelar untuk memilih presiden pengganti Viktor Yanukovych, yang digulingkan beberapa bulan lalu. Penggulingan Yanunkovych yang merupakan sekutu utama Rusia itu memicu ketegangan antara Ukraina dan Rusia.
Ketegangan semakin memanas, ketika Rusia berhadapan dengan negara-negara Barat yang terang-terangan mendukung Ukraina. Perseteruan itu tercatat sebagai krisis terburuk antara Rusia dan negara-negara Barat setelah akhir Perang Dingin. (Baca: AS jatuhkan sanksi ke Rusia, Pentagon "kena batunya")
Sanksi lebih berat
Dalam beberapa pekan terakhir kelompok separatis pro-Rusia telah memicu gejolak di Ukraina timur, dengan menyerbu dan menduduki gedung-gedung pemerintah setempat. Ukraina dan AS menuduh Rusia memberikan dukungan kepada kelompok separatis itu. Sanksi pun berkali-kali dijatuhkan kepada Rusia, baik dari AS maupun Uni Eropa.
”Jika pada kenyataannya kita melihat gangguan dan destabilisasi yang begitu parah sehingga mereka (Rusia) menghalangi pemilu (Ukraina) pada tanggal 25 Mei 2014, kami tidak akan punya pilihan, selain untuk bergerak maju dengan sanksi tambahan yang lebih berat,” kata Obama, seperti dilansir Reuters, Sabtu (3/5/2014).
AS dan sekutunya di Eropa telah siaga, setelah Rusia mengerahkan 40.000 pasukan tempurnya di dekat perbatasan Rusia dan Ukraina timur. Ukraina sendiri melakukan hal yang sama dan siap beraksi jika Rusia sewaktu-waktu melakukan invasi militer.
Obama dan Merkel mengadakan pertemuan khusus di Gedung Putih kemarin untuk membahas krisis Ukraina yang tidak kunjung reda. Merkel sendiri menolak solusi militer dalam penyelesaian krisis Ukraina.
Peemilu Ukraina nanti digelar untuk memilih presiden pengganti Viktor Yanukovych, yang digulingkan beberapa bulan lalu. Penggulingan Yanunkovych yang merupakan sekutu utama Rusia itu memicu ketegangan antara Ukraina dan Rusia.
Ketegangan semakin memanas, ketika Rusia berhadapan dengan negara-negara Barat yang terang-terangan mendukung Ukraina. Perseteruan itu tercatat sebagai krisis terburuk antara Rusia dan negara-negara Barat setelah akhir Perang Dingin. (Baca: AS jatuhkan sanksi ke Rusia, Pentagon "kena batunya")
Sanksi lebih berat
Dalam beberapa pekan terakhir kelompok separatis pro-Rusia telah memicu gejolak di Ukraina timur, dengan menyerbu dan menduduki gedung-gedung pemerintah setempat. Ukraina dan AS menuduh Rusia memberikan dukungan kepada kelompok separatis itu. Sanksi pun berkali-kali dijatuhkan kepada Rusia, baik dari AS maupun Uni Eropa.
”Jika pada kenyataannya kita melihat gangguan dan destabilisasi yang begitu parah sehingga mereka (Rusia) menghalangi pemilu (Ukraina) pada tanggal 25 Mei 2014, kami tidak akan punya pilihan, selain untuk bergerak maju dengan sanksi tambahan yang lebih berat,” kata Obama, seperti dilansir Reuters, Sabtu (3/5/2014).
AS dan sekutunya di Eropa telah siaga, setelah Rusia mengerahkan 40.000 pasukan tempurnya di dekat perbatasan Rusia dan Ukraina timur. Ukraina sendiri melakukan hal yang sama dan siap beraksi jika Rusia sewaktu-waktu melakukan invasi militer.
(mas)