Menlu AS sebut diplomasi Perang Dingin lebih mudah
Rabu, 23 April 2014 - 13:57 WIB
Menlu AS sebut diplomasi Perang Dingin lebih mudah
A
A
A
Sindonews.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), John Kerry, mengeluhkan sulitnya diplomasi di era saat ini. Kerry lantas menyindir, bahwa diplomasi Perang Dingin lebih mudah untuk meraih kemenangan.
Komentar Kerry itu muncul di tengah ketegangan antara AS dan Rusia terkait kemelut di Ukraina timur. AS sudah telah menyatakan mendukung Ukraina yang berseteru dengan Rusia. Yang terbaru, Ukraina kembali meluncurkan operasi militer terhadap kelompok bersenjata pro-Rusia di Ukraina timur setelah seorang politisi Ukraina disiksa hingga tewas.
Sindiran Kerry soal mudahnya diplomasi Perang Dingin disampaikan dalam acara Quadrennial Diplomacy and Development Review (QDDR) keempat yang dihadiri para akdemisi yang ahli dalam kebijakan luar negeri AS.
“Selama Perang Dingin, (diplomasi) itu benar-benar tidak tampak begitu jelas untuk para pemimpin besar, tapi itu lebih mudah daripada diplomasi era sekarang ini,” kata Kerry, seperti dikutip Reuters, Rabu (23/4/2014).
”Kita bisa membuat keputusan yang benar-benar buruk dan menang karena kami kekuatan ekonomi dan militer kami cukup kuat dan dominan,” lanjut Kerry menggambarkan mudahnya diplomasi Perang Dingin.”(Tapi) itu tidak dibenarkan lagi.”
Saling tuduh
Menurutnya, kebijakan Luar Negeri AS saat ini tantangannya lebih rumit. Karena dunia menyaksikan pecahnya konflik sektarian, ekstremisme agama, ideologi radikal dan tantangan besar lainnya.”Jadi kita harus benar-benar menavigasi jalan dunia yang jauh lebih rumit,” ujar Kerry.
Dalam kemelut di Ukraina timur, Kerry kembali menyalahkan Rusia. Dia menganggap Rusia gagal untuk meredam ketegangan di Ukraina timur. Namun, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, juga menuduh AS gagal untuk menggunakan pengaruhnya agar Ukraina meredam ketegangan.
Lavrov minta AS memberikan bukti nyata, bahwa Ukraina melucuti senjata kelompok ultransionalis yang memusuhi kelompok demonstran pro-Rusia.
Komentar Kerry itu muncul di tengah ketegangan antara AS dan Rusia terkait kemelut di Ukraina timur. AS sudah telah menyatakan mendukung Ukraina yang berseteru dengan Rusia. Yang terbaru, Ukraina kembali meluncurkan operasi militer terhadap kelompok bersenjata pro-Rusia di Ukraina timur setelah seorang politisi Ukraina disiksa hingga tewas.
Sindiran Kerry soal mudahnya diplomasi Perang Dingin disampaikan dalam acara Quadrennial Diplomacy and Development Review (QDDR) keempat yang dihadiri para akdemisi yang ahli dalam kebijakan luar negeri AS.
“Selama Perang Dingin, (diplomasi) itu benar-benar tidak tampak begitu jelas untuk para pemimpin besar, tapi itu lebih mudah daripada diplomasi era sekarang ini,” kata Kerry, seperti dikutip Reuters, Rabu (23/4/2014).
”Kita bisa membuat keputusan yang benar-benar buruk dan menang karena kami kekuatan ekonomi dan militer kami cukup kuat dan dominan,” lanjut Kerry menggambarkan mudahnya diplomasi Perang Dingin.”(Tapi) itu tidak dibenarkan lagi.”
Saling tuduh
Menurutnya, kebijakan Luar Negeri AS saat ini tantangannya lebih rumit. Karena dunia menyaksikan pecahnya konflik sektarian, ekstremisme agama, ideologi radikal dan tantangan besar lainnya.”Jadi kita harus benar-benar menavigasi jalan dunia yang jauh lebih rumit,” ujar Kerry.
Dalam kemelut di Ukraina timur, Kerry kembali menyalahkan Rusia. Dia menganggap Rusia gagal untuk meredam ketegangan di Ukraina timur. Namun, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, juga menuduh AS gagal untuk menggunakan pengaruhnya agar Ukraina meredam ketegangan.
Lavrov minta AS memberikan bukti nyata, bahwa Ukraina melucuti senjata kelompok ultransionalis yang memusuhi kelompok demonstran pro-Rusia.
(mas)