NATO: Jika ingin dialog, Rusia harus tarik pasukannya
Kamis, 10 April 2014 - 18:29 WIB
NATO: Jika ingin dialog, Rusia harus tarik pasukannya
A
A
A
Sindonews.com – Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen mengatakan pada Kamis (10/4/2014), Rusia harus menarik kembali pasukannya dari perbatasan Ukraina, sebagai langkah pertama untuk memulai dialog untuk mengatasi krisis di negara tersebut.
“40 ribu tentara Rusia yang berkumpul di perbatasan Ukraina memang tidak sedang berlatih, tapi mereka siap tempur. Setiap tindakan militer lebih lanjut oleh Rusia akan mengakibatkan konsekuensi serius," ungkap Rasmussen, seperti dilansir Reuters.
"Dari Praha, saya memiliki pesan untuk Rusia: Anda memiliki pilihan untuk berhenti menyalahkan orang lain atas tindakan Anda sendiri. Untuk menghentikan mengumpulkan pasukan Anda, untuk menghentikan meningkatnya krisis ini dan mulai terlibat dalam dialog," tegas Rasmussen.
"Jika Rusia serius tentang dialog, maka langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah menarik kembali pasukannya,” Rasmussen menambahkan.
Sebelumnya dilaporkan bahwa Rusia, Amerika Serika , Ukraina dan Uni Eropa dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan pada Kamis depan di Jenewa untuk mencoba membicaraan penanggulangan krisis di Ukraina.
“40 ribu tentara Rusia yang berkumpul di perbatasan Ukraina memang tidak sedang berlatih, tapi mereka siap tempur. Setiap tindakan militer lebih lanjut oleh Rusia akan mengakibatkan konsekuensi serius," ungkap Rasmussen, seperti dilansir Reuters.
"Dari Praha, saya memiliki pesan untuk Rusia: Anda memiliki pilihan untuk berhenti menyalahkan orang lain atas tindakan Anda sendiri. Untuk menghentikan mengumpulkan pasukan Anda, untuk menghentikan meningkatnya krisis ini dan mulai terlibat dalam dialog," tegas Rasmussen.
"Jika Rusia serius tentang dialog, maka langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah menarik kembali pasukannya,” Rasmussen menambahkan.
Sebelumnya dilaporkan bahwa Rusia, Amerika Serika , Ukraina dan Uni Eropa dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan pada Kamis depan di Jenewa untuk mencoba membicaraan penanggulangan krisis di Ukraina.
(esn)