Setelah 5.000 tahun Afghanistan gelar pemilu demokratis
Sabtu, 05 April 2014 - 10:23 WIB
Setelah 5.000 tahun Afghanistan gelar pemilu demokratis
A
A
A
Sindonews.com - Jutaan rakyat Afghanistan sudah mulai memberikan suara untuk memilih pemimpin baru dalam pemilu bersejarah di negara itu, hari ini (5/4/2014). Itu adalah pemilu demokratis pertama dalam 5.000 tahun.
Setelah berbulan-bulan bermanuver dan berebut simpati publik, Ashraf Ghani Ahmadzai, Abdullah Abdullah dan Zalmai Rassoul telah muncul sebagai kandidat para pemimpin Afghanistan. Semua tokoh itu adalah mantan komandan mujahidin dengan pengalaman sebagai teknokrat berpendidikan Barat.
Nicholas Haysom, Wakil Kepala Misi PBB di Afghanistan, mengatakan, Afghanistan tidak pernah menggelar pemilu yang dipersiapkan dengan begitu baik seperti hari ini.
Namun, pemilu di Afghanistan menjadi tantangan berat. Sebab, kelompok Taliban sudah berniat untuk menganggu proses pemilu. Laman Al Jazeera, melaporkan, 352.000 tentara bertugas untuk menjamin keamanan di 28.500 tempat pemungutan suara (TPS). Ribuan TPS itu akan didatangi sekitar 12 juta pemilih.
Pada malam sebelum pemungutan suara digelar, dua wartawan Associated Press ditembak saat mereka melaporkan persiapan pemilu. Mereka adalah Anja Niedringhaus, seorang fotografer asal Jerman berusia 48 tahun, tewas dan Kathy Gannon wartawan tulis terluka.
Di tengah ketatnya persaingan para kandidat, muncul isu bahwa tokoh incumbent, Hamid Karzai, telah beralih untuk memberikan dukungan kepada Ghani. Padahal, sebelumnya Karzai dikenal mendukung Rassoul.
Namun, isu itu ditepis pejabat Afghanistan.
”Itu omong kosong. Ini adalah politik sangat kotor, dan rumor yang sangat salah,” kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim.
Setelah berbulan-bulan bermanuver dan berebut simpati publik, Ashraf Ghani Ahmadzai, Abdullah Abdullah dan Zalmai Rassoul telah muncul sebagai kandidat para pemimpin Afghanistan. Semua tokoh itu adalah mantan komandan mujahidin dengan pengalaman sebagai teknokrat berpendidikan Barat.
Nicholas Haysom, Wakil Kepala Misi PBB di Afghanistan, mengatakan, Afghanistan tidak pernah menggelar pemilu yang dipersiapkan dengan begitu baik seperti hari ini.
Namun, pemilu di Afghanistan menjadi tantangan berat. Sebab, kelompok Taliban sudah berniat untuk menganggu proses pemilu. Laman Al Jazeera, melaporkan, 352.000 tentara bertugas untuk menjamin keamanan di 28.500 tempat pemungutan suara (TPS). Ribuan TPS itu akan didatangi sekitar 12 juta pemilih.
Pada malam sebelum pemungutan suara digelar, dua wartawan Associated Press ditembak saat mereka melaporkan persiapan pemilu. Mereka adalah Anja Niedringhaus, seorang fotografer asal Jerman berusia 48 tahun, tewas dan Kathy Gannon wartawan tulis terluka.
Di tengah ketatnya persaingan para kandidat, muncul isu bahwa tokoh incumbent, Hamid Karzai, telah beralih untuk memberikan dukungan kepada Ghani. Padahal, sebelumnya Karzai dikenal mendukung Rassoul.
Namun, isu itu ditepis pejabat Afghanistan.
”Itu omong kosong. Ini adalah politik sangat kotor, dan rumor yang sangat salah,” kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim.
(mas)