Lagi, demonstran anti-Yingluck macetkan Bangkok
Sabtu, 29 Maret 2014 - 15:18 WIB
Lagi, demonstran anti-Yingluck macetkan Bangkok
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan ribu demonstran yang ingin menggulingkan Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, kembali turun ke jalan di Bangkok, Sabtu (29/3/2014). Dalam aksinya, mereka mengibarkan bendera dan meniup peluit sehingga membuat macet jalanan utama di Bangkok.
“Ada cukup pengunjuk rasa menyebabkan kemacetan lalu lintas, tetapi jumlah demonstran agar berkurang dibandingkan dengan demonstrasi sebelumnya,” kata Paradorn Pattanathabutr, Penasihat Keamanan untuk Perdana Menteri Thailand, seperti dikutip Reuters.
”Kami pikir jumlah massa akan membengkak menjadi 50.000 orang. Demonstran masih berdatangan dari luar ibukota. Kami memiliki 8.000 polisi yang siaga jika kekerasan terjadi,” lanjut dia.
Thailand telah mengalami krisis sejak mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, kakak Yingluck, digulingkan dalam kudeta tahun 2006. Para demonstran kali ini didominasi kalangan mahasiswa dan masyarakat pro-reformasi Thailand.
Kelompok itu merupakan pecahan dari kelompok demonstran utama yang pernah melumpuhkan kompleks Government House, kantor dari Perdana Menteri Thailand.
Selama lima bulan terakhir, demonstran terus beraksi, terutama sejak Mahkamah Konstitusi Thailand menyatakan hasil pemilu pada 2 Februari 2014 dinyatakan tidak sah.
“Ada cukup pengunjuk rasa menyebabkan kemacetan lalu lintas, tetapi jumlah demonstran agar berkurang dibandingkan dengan demonstrasi sebelumnya,” kata Paradorn Pattanathabutr, Penasihat Keamanan untuk Perdana Menteri Thailand, seperti dikutip Reuters.
”Kami pikir jumlah massa akan membengkak menjadi 50.000 orang. Demonstran masih berdatangan dari luar ibukota. Kami memiliki 8.000 polisi yang siaga jika kekerasan terjadi,” lanjut dia.
Thailand telah mengalami krisis sejak mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, kakak Yingluck, digulingkan dalam kudeta tahun 2006. Para demonstran kali ini didominasi kalangan mahasiswa dan masyarakat pro-reformasi Thailand.
Kelompok itu merupakan pecahan dari kelompok demonstran utama yang pernah melumpuhkan kompleks Government House, kantor dari Perdana Menteri Thailand.
Selama lima bulan terakhir, demonstran terus beraksi, terutama sejak Mahkamah Konstitusi Thailand menyatakan hasil pemilu pada 2 Februari 2014 dinyatakan tidak sah.
(mas)