Singapura masih sakit hati terkait KRI Usman Harun
Jum'at, 21 Maret 2014 - 09:28 WIB
Singapura masih sakit hati terkait KRI Usman Harun
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Singapura masih merasa sakit hati dengan keputusan Indonesia yang memberi nama kapal perang mereka dengan nama KRI Usman Harun. Kementerian Luar Negeri Singapura, menyatakan keprihatinan dan kekecewaannya atas penamaan kapal itu.
Rasa sakit hati Singapura itu, menjadi laporan Straits Times, kemarin (20/3/2014). Menurut media Singapura itu, Kementerian Luar Negeri Singapura menyampaikan kekecewaannya dalam sebuah acara terkait pertahanan internasional di Jakarta.
Mereka kecewa karena Indonesia menamai kapal perangnya dengan dua marinir yang melakukan pemboman terhadap bangunan MacDonald pada tahun 1965.
Dua marinir Indonesia itu adalah Osman Mohamed Ali dan Harun Said. Mereka telah dihukum dengan dieksekusi mati di Singapura pada tahun 1968 atas pemboman yang menewaskan tiga warga sipil dan melukai 33 lainnya.
Namun, Indonesia telah mengangkat Usman dan Harun sebagai pahlawan nasional pada tahun 1968. Sehingga, Indonesia tetap memberikan nama kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun.
”Kami prihatin dan kecewa atas insiden tersebut di Jakarta International Defence Dialogue (JIDD),” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Singapura. “Belajar dari insiden tersebut, delegasi menarik diri dari acara JIDD dan pulang ke Singapura.”
Rasa sakit hati Singapura itu, menjadi laporan Straits Times, kemarin (20/3/2014). Menurut media Singapura itu, Kementerian Luar Negeri Singapura menyampaikan kekecewaannya dalam sebuah acara terkait pertahanan internasional di Jakarta.
Mereka kecewa karena Indonesia menamai kapal perangnya dengan dua marinir yang melakukan pemboman terhadap bangunan MacDonald pada tahun 1965.
Dua marinir Indonesia itu adalah Osman Mohamed Ali dan Harun Said. Mereka telah dihukum dengan dieksekusi mati di Singapura pada tahun 1968 atas pemboman yang menewaskan tiga warga sipil dan melukai 33 lainnya.
Namun, Indonesia telah mengangkat Usman dan Harun sebagai pahlawan nasional pada tahun 1968. Sehingga, Indonesia tetap memberikan nama kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun.
”Kami prihatin dan kecewa atas insiden tersebut di Jakarta International Defence Dialogue (JIDD),” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Singapura. “Belajar dari insiden tersebut, delegasi menarik diri dari acara JIDD dan pulang ke Singapura.”
(mas)