Pangkalan AL diserbu, Kiev ancam balas Crimea
Kamis, 20 Maret 2014 - 03:32 WIB
Pangkalan AL diserbu, Kiev ancam balas Crimea
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Ukraina di Kiev mengancam akan membalas tindakan otoritas Crimea, jika provokasi terhadap pasukan Ukraina di wilayah Semenanjung Laut Hitam itu terus berlanjut.
Ancaman ini dilontarkan pada Rabu (19/3/2014), setelah pasukan bertopeng yang diyakini sebagai pasukan khusus Rusia dan ratusan simpatisan pro Rusia, menguasai Pangkalan Angkatan Laut Ukraina di Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.
Menurut Juru bicara militer Ukraina, Vladislav Seleznyov, Komandan Angkatan Laut (AL) Ukraina di Crimea, Laksamana Serhiy Haiduk ditahan oleh pasukan bertopeng dan pasukan AL Ukraina diusir dari basis mereka.
"Jika pada pukul 21.00 malam semua provokasi terhadap tentara Ukraina belum berhenti dan Laksamana Haiduk dan semua sandera lainnya tidak dibebaskan, pemerintah akan mengambil tindakan yang tepat, termasuk yang bersifat teknis dan teknologi," sebut pernyataan pejabat Presiden Ukraina, Oleksander Turchinov.
Sebagian besar suplai listrik, air, dan makanan di Crime dipasok dari daratan Ukraina. Pernyataan Turchinov ini memberi kesan Kiev bisa melakukan tekanan dengan menghentikan pasokan. "Militer Rusia dengan sinis menolak untuk bernegosiasi guna mengakhiri provokasi dan melepaskan para sandera," kata Turchinov, seperti dikutip dari Reuters.
Ancaman ini dilontarkan pada Rabu (19/3/2014), setelah pasukan bertopeng yang diyakini sebagai pasukan khusus Rusia dan ratusan simpatisan pro Rusia, menguasai Pangkalan Angkatan Laut Ukraina di Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.
Menurut Juru bicara militer Ukraina, Vladislav Seleznyov, Komandan Angkatan Laut (AL) Ukraina di Crimea, Laksamana Serhiy Haiduk ditahan oleh pasukan bertopeng dan pasukan AL Ukraina diusir dari basis mereka.
"Jika pada pukul 21.00 malam semua provokasi terhadap tentara Ukraina belum berhenti dan Laksamana Haiduk dan semua sandera lainnya tidak dibebaskan, pemerintah akan mengambil tindakan yang tepat, termasuk yang bersifat teknis dan teknologi," sebut pernyataan pejabat Presiden Ukraina, Oleksander Turchinov.
Sebagian besar suplai listrik, air, dan makanan di Crime dipasok dari daratan Ukraina. Pernyataan Turchinov ini memberi kesan Kiev bisa melakukan tekanan dengan menghentikan pasokan. "Militer Rusia dengan sinis menolak untuk bernegosiasi guna mengakhiri provokasi dan melepaskan para sandera," kata Turchinov, seperti dikutip dari Reuters.
(esn)