Jepang tinjau ulang kasus budak nafsu PD II, Korsel marah
Sabtu, 01 Maret 2014 - 15:00 WIB
Jepang tinjau ulang kasus budak nafsu PD II, Korsel marah
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Korea Selatan (Korsel), Park Geun - hye, pada Sabtu (1/3/3014) menyampaikan kemarahannya kepada Pemerintah Jepang. Hal itu dipicu sikap Jepang yang hendak meninjau ulang permintaan maafnya atas kasus para wanita yang dijadikan budak pemuas nafsu militer Jepang saat Perang Dunia (PD) II.
Selain wanita Korsel, para wanita Indonesia, China dan Taiwan juga menjadi korban pemuas nafsu para militer Jepang ketika Perang Dunia II pecah. Park memperingatkan, bahwa Jepang akan diisolasi jika meninjaul ulang permintaan maafnya atas kasus itu.
Peringatan dari Park itu muncul ketika berpidato untuk menandai peringatan pemberontakan anti-Jepang tahun 1919. Peringatan itu bertepatan juga dengan pembukaan pameran langka bertajuk ”comfort women (wanita penghibur)” di Seoul. Itu merupakan pameran eufemisme untuk perempuan yang dipaksa menjadi budak pemuas nafsu militer Jepang selama Perang Dunia II.
Pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, mulai mempertimbangkan kembali permintaan maaf yang pernah disampaikan tahun 1995 atas kasus itu. China dan Korsel, merupakan salah satu pengecam kejahatan perang Jepang saat PD II pecah.
”Kebenaran historis ada dalam kesaksian dari para korban. Jepang akan diisolasi, jika ternyata menutup telinga atas kesaksian mereka,” kata Park, seperti dilansir AFP.
Park menyerukan kepada Jepang mengikuti langkah Jerman yang “bertobat” atas kesalahan di masa lalu, sehingga kedua negara tersebut bisa menempatkan kenangan pahit di belakang, dan melangkah maju untuk perdamaian.
Selain wanita Korsel, para wanita Indonesia, China dan Taiwan juga menjadi korban pemuas nafsu para militer Jepang ketika Perang Dunia II pecah. Park memperingatkan, bahwa Jepang akan diisolasi jika meninjaul ulang permintaan maafnya atas kasus itu.
Peringatan dari Park itu muncul ketika berpidato untuk menandai peringatan pemberontakan anti-Jepang tahun 1919. Peringatan itu bertepatan juga dengan pembukaan pameran langka bertajuk ”comfort women (wanita penghibur)” di Seoul. Itu merupakan pameran eufemisme untuk perempuan yang dipaksa menjadi budak pemuas nafsu militer Jepang selama Perang Dunia II.
Pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, mulai mempertimbangkan kembali permintaan maaf yang pernah disampaikan tahun 1995 atas kasus itu. China dan Korsel, merupakan salah satu pengecam kejahatan perang Jepang saat PD II pecah.
”Kebenaran historis ada dalam kesaksian dari para korban. Jepang akan diisolasi, jika ternyata menutup telinga atas kesaksian mereka,” kata Park, seperti dilansir AFP.
Park menyerukan kepada Jepang mengikuti langkah Jerman yang “bertobat” atas kesalahan di masa lalu, sehingga kedua negara tersebut bisa menempatkan kenangan pahit di belakang, dan melangkah maju untuk perdamaian.
(mas)