Singapura batal undang RI untuk akrobat pesawat militer
Senin, 10 Februari 2014 - 09:30 WIB
Singapura batal undang RI untuk akrobat pesawat militer
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Singapura membatalkan undangan yang diberikan kepada militer Indonesia untuk hadir dalam akrobat pesawat militer di Singapura atau Singapore Airshow. Pembatalan undangan itu sebagai buntut dari protes penamaan kapal militer Indonesia dengan nama KRI Usman Harun.
Straits Times pada Senin (10/2/2014) melaporkan, pembatalan undangan dari Pemerintah Singapura itu sudah disampaikan kepada seorang perwira senior Angkatan Laut Indonesia dan beberapa staf militer lainnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi Publik Departemen Pertahanan Indonesia, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar, membenarkan, bahwa Singapura telah menarik undangan untuk Kepala Angkatan Laut Indonesia Marsetio dan 100 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Sabtu lalu.
Sisriadi melanjutkan, Wakil Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, juga telah memutuskan, untuk tidak datang ke Singapura Airshow, setelah Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, membatalkan rencana pertemuan mereka. Namun, sebuah sumber di Kementerian Indonesia menyebut, pertemuan itu sedang dijadwalkan ulang.
Sebelumnya, Pemerintah Singapura kecewa dengan sikap Pemerintah Indonesia yang mengabaikan protes mereka perihal penamaan KRI Usman Harun. Nama KRI Usman Harun merupakan gabungan dari nama dua marinir Indonesia, Osman Mohamad Ali dan Harun Said yang dianggap terlibat pemboman di sebuah bangunan di Orchard Road pada tahun 1965. Tiga orang tewas dan 33 lainnya terluka dalam insiden kala itu.
Dua marinir Indonesia itu, telah dieksekusi dengan hukuman gantung di Singapura, karena dianggap bersalah dalam pemboman tersebut. Namun, bagi Indonesia, dua marinir itu dianggap pahlawan karena menjalankan misi pemerintah yang kala itu masih dipimpin Presiden Soekarno.
Menteri Sosial dan Pembangunan Keluarga Singapura, Chan Chun Sing, melalui akun Facebook-nya, menyebut Indonesia telah mengalami perubahan sikap. “Karena itu saya kecewa dengan episode ini. Saya berharap para pemimpin Indonesia tidak akan mengorbankan hubungan bilateral kami,” katanya.
Straits Times pada Senin (10/2/2014) melaporkan, pembatalan undangan dari Pemerintah Singapura itu sudah disampaikan kepada seorang perwira senior Angkatan Laut Indonesia dan beberapa staf militer lainnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi Publik Departemen Pertahanan Indonesia, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar, membenarkan, bahwa Singapura telah menarik undangan untuk Kepala Angkatan Laut Indonesia Marsetio dan 100 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Sabtu lalu.
Sisriadi melanjutkan, Wakil Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, juga telah memutuskan, untuk tidak datang ke Singapura Airshow, setelah Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, membatalkan rencana pertemuan mereka. Namun, sebuah sumber di Kementerian Indonesia menyebut, pertemuan itu sedang dijadwalkan ulang.
Sebelumnya, Pemerintah Singapura kecewa dengan sikap Pemerintah Indonesia yang mengabaikan protes mereka perihal penamaan KRI Usman Harun. Nama KRI Usman Harun merupakan gabungan dari nama dua marinir Indonesia, Osman Mohamad Ali dan Harun Said yang dianggap terlibat pemboman di sebuah bangunan di Orchard Road pada tahun 1965. Tiga orang tewas dan 33 lainnya terluka dalam insiden kala itu.
Dua marinir Indonesia itu, telah dieksekusi dengan hukuman gantung di Singapura, karena dianggap bersalah dalam pemboman tersebut. Namun, bagi Indonesia, dua marinir itu dianggap pahlawan karena menjalankan misi pemerintah yang kala itu masih dipimpin Presiden Soekarno.
Menteri Sosial dan Pembangunan Keluarga Singapura, Chan Chun Sing, melalui akun Facebook-nya, menyebut Indonesia telah mengalami perubahan sikap. “Karena itu saya kecewa dengan episode ini. Saya berharap para pemimpin Indonesia tidak akan mengorbankan hubungan bilateral kami,” katanya.
(mas)