Visa jadi masalah besar hubungan Irak & RI
Sabtu, 21 Desember 2013 - 22:01 WIB
Visa jadi masalah besar hubungan Irak & RI
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat Irak dari berbagai kalangan antusias mengikuti acara “Peluncuran Kebijakan Visa Kunjungan ke Indonesia” yang digelar di Ballroom Hotel Al-Mansour, Baghdad.
Kebijakan baru soal peluncuran visa kunjungan ke Indonesia untuk rakyat Irak itu, diklaim untuk meningkatkan hubungan kedua negara. “Perubahan kebijakan pengaturan pemberian visa merupakan wujud konkrit dari upaya Indonesia untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan Irak di berbagai bidang,” kata Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Nurdin, seperti dikutip dari pemberitaan situs Kemlu RI, Sabtu (21/12/2013).
Dubes Safzen menyadari, masalah visa telah mengusik hubungan kedua negara, sejak KBRI Baghdad direaktivasi kembali pada 2011. ”Sejak awal KBRI Baghdad direaktivasi, kami merasa visa kunjungan ini menjadi masalah besar terutama bagi warga Irak yang betul-betul ingin berkunjung ke Indonesia untuk kepentingan bisnis, kunjungan keluarga, dan kunjungan jurnalistik,” ujarnya.
Pengubahan kebijakan visa itu, katanya, tidak mudah. Sebab, Pemerintah Indonesia menghadapi masalah dengan banyaknya warga Irak dan warga dari negara lain di Timur Tengah yang tertangkap di perairan Indonesia, dengan tujuan mencari suaka ke Australia.
Selain itu, ada juga masalah overstay yang kemudian menimbulkan berbagai masalah hukum di Indonesia. Semua itu akhirnya menjadi kendala dalam memproses pemberian visa bagi warga Irak yang akan masuk ke Indonesia.
Dubes RI berharap perubahan kebijakan ini akan semakin meningkatkan hubungan Indonesia dan Irak, khususnya dalam membangun kekerabatan yang semakin erat serta merealisasikan berbagai misi ekonomi dan dagang yang lebih maksimal.
Kebijakan baru soal peluncuran visa kunjungan ke Indonesia untuk rakyat Irak itu, diklaim untuk meningkatkan hubungan kedua negara. “Perubahan kebijakan pengaturan pemberian visa merupakan wujud konkrit dari upaya Indonesia untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan Irak di berbagai bidang,” kata Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Nurdin, seperti dikutip dari pemberitaan situs Kemlu RI, Sabtu (21/12/2013).
Dubes Safzen menyadari, masalah visa telah mengusik hubungan kedua negara, sejak KBRI Baghdad direaktivasi kembali pada 2011. ”Sejak awal KBRI Baghdad direaktivasi, kami merasa visa kunjungan ini menjadi masalah besar terutama bagi warga Irak yang betul-betul ingin berkunjung ke Indonesia untuk kepentingan bisnis, kunjungan keluarga, dan kunjungan jurnalistik,” ujarnya.
Pengubahan kebijakan visa itu, katanya, tidak mudah. Sebab, Pemerintah Indonesia menghadapi masalah dengan banyaknya warga Irak dan warga dari negara lain di Timur Tengah yang tertangkap di perairan Indonesia, dengan tujuan mencari suaka ke Australia.
Selain itu, ada juga masalah overstay yang kemudian menimbulkan berbagai masalah hukum di Indonesia. Semua itu akhirnya menjadi kendala dalam memproses pemberian visa bagi warga Irak yang akan masuk ke Indonesia.
Dubes RI berharap perubahan kebijakan ini akan semakin meningkatkan hubungan Indonesia dan Irak, khususnya dalam membangun kekerabatan yang semakin erat serta merealisasikan berbagai misi ekonomi dan dagang yang lebih maksimal.
(mas)