Bersalaman, polisi & demonstran Thailand berdamai
Selasa, 03 Desember 2013 - 12:23 WIB
Bersalaman, polisi & demonstran Thailand berdamai
A
A
A
Sindonews.com - Polisi Thailand mengubah sikapnya, dengan membiarkan para demonstran, jika ingin menduduki markas polisi di Bangkok. Perubahan sikap itu terjadi, setelah dua hari polisi dan demonstran yang ingin menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra bentrok.
”Hari ini, kami tidak akan menggunakan gas air mata, tidak ada konfrontasi, kami akan membiarkan mereka jika mereka ingin (duduki markas polisi),” kata Kepala Polisi Metropolitan Bangkok, Kamronvit Thoopkrachang, kepada Reuters, Selasa (3/12/2013).
Seorang saksi mata mengatakan, polisi sedang membersihkan kawat berduri yang terpasang pada barikade dari luar markas polisi. Tidak hanya itu, demonstran juga akan dibiarkan jika mereka ingin mendekati kompleks kantor Perdana Menteri Yinglcuk.
Puluhan pengunjuk rasa juga mulai berdatangan ke markas polisi, dan di sana mereka berjabat tengan dengan aparat kepolisian. ”Markas polisi milik publik,” kata Thoopkrachang. “Tadi malam seorang polisi terluka oleh tembakan sehingga jika kita melawan (demonstran) akan ada yang cedera lagi, dan kita semua adalah warga Thailand.”
Sebelumnya, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra menolak mengundurkan diri dari jabatannya, seperti yang dituntut para demonstran. Menurutnya, tuntutan yang tidak berdasarkan konsitusi tidak bisa dia wujudkan. Kendati demikian, dia tetap membuka pintu dialog dengan para demonstran.
”Yang bisa saya lakukan untuk membuat orang bahagia, saya bersedia untuk melakukan itu. Tapi, sebagai perdana menteri, apa yang bisa saya lakukan harus di bawah konstitusi,” kata Yinglcuk, seperti dikutip BBC.
Demonstrasi besar-besaran itu dipicu usulan RUU Amnesti yang diusung Partai Puea Thai (partai berkuasa), yang merupakan partai pendukung Yinglcuk. Namun, kelompok oposisi curiga, RUU itu sebagai siasat Yinglcuk untuk membebaskan bekas PM Thaksin Shinawatra (kakak Yingluck) dari kasus korupsi tahun 2008. Thaksin kini berada di pengasingan.
”Hari ini, kami tidak akan menggunakan gas air mata, tidak ada konfrontasi, kami akan membiarkan mereka jika mereka ingin (duduki markas polisi),” kata Kepala Polisi Metropolitan Bangkok, Kamronvit Thoopkrachang, kepada Reuters, Selasa (3/12/2013).
Seorang saksi mata mengatakan, polisi sedang membersihkan kawat berduri yang terpasang pada barikade dari luar markas polisi. Tidak hanya itu, demonstran juga akan dibiarkan jika mereka ingin mendekati kompleks kantor Perdana Menteri Yinglcuk.
Puluhan pengunjuk rasa juga mulai berdatangan ke markas polisi, dan di sana mereka berjabat tengan dengan aparat kepolisian. ”Markas polisi milik publik,” kata Thoopkrachang. “Tadi malam seorang polisi terluka oleh tembakan sehingga jika kita melawan (demonstran) akan ada yang cedera lagi, dan kita semua adalah warga Thailand.”
Sebelumnya, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra menolak mengundurkan diri dari jabatannya, seperti yang dituntut para demonstran. Menurutnya, tuntutan yang tidak berdasarkan konsitusi tidak bisa dia wujudkan. Kendati demikian, dia tetap membuka pintu dialog dengan para demonstran.
”Yang bisa saya lakukan untuk membuat orang bahagia, saya bersedia untuk melakukan itu. Tapi, sebagai perdana menteri, apa yang bisa saya lakukan harus di bawah konstitusi,” kata Yinglcuk, seperti dikutip BBC.
Demonstrasi besar-besaran itu dipicu usulan RUU Amnesti yang diusung Partai Puea Thai (partai berkuasa), yang merupakan partai pendukung Yinglcuk. Namun, kelompok oposisi curiga, RUU itu sebagai siasat Yinglcuk untuk membebaskan bekas PM Thaksin Shinawatra (kakak Yingluck) dari kasus korupsi tahun 2008. Thaksin kini berada di pengasingan.
(mas)