Sebut nuklir bukan ancaman, Iran hendak rangkul Saudi
Senin, 02 Desember 2013 - 15:54 WIB
Sebut nuklir bukan ancaman, Iran hendak rangkul Saudi
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Iran berniat menjalin kerjasama yang kuat dengan sekutu Amerika Serikat, Arab Saudi. Teheran meminta agar kesepakatan negosiasi nuklir antara Iran dengan negara P5+1 tidak dianggap sebagai ancaman.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif, mengatakan, setelah Kuwait, dia berharap bisa diagendakan untuk berkunjung ke Arab Saudi. Iran dan Arab Saudi selama ini berseberangan, terlebih sentimen sektarian di Timur Tengah meningkat. Iran didominasi kaum Muslim Syiah, sedangkan Arab Saudi didominasi kaum Muslim Sunni.
Zarif minta agar kesepakatan nuklir yang dicapai di Jenewa pada 24 November 2013, tidak dianggap sebagai ancaman. ”Kesepakatan (nuklir) ini tidak dapat mengorbankan negara manapun di wilayah ini,” ujar Zarif yang, berbicara melalui penerjemah dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Senin (2/12/2013).
Ditanya, apakah dia juga berencana untuk mengunjungi Riyadh, Zarif berujar; ”Kami melihat Arab Saudi sebagai negara penting dan berpengaruh di kawasaan regional dan kami berupaya untuk memperkuat kerjasama dengan mereka untuk kepentingan wilayah.’
Arab Saudi, sebelumnya pernah menyatakan, bahwa mereka hati-hati menyambut kesepakatan nuklir Iran. Beberapa pejabat setempat menuntut jaminan bahwa kesepakatan itu akan memberikan kontribusi untuk keamanan bagi wilayah Teluk dan Timur Tengah.
Setelah kunjungannya ke Kuwait, Zarif menuju ke Oman, di mana ia bertemu dengan Menlu Oman Sultan Qaboos. ”(Kami) siap untuk memperluas kerjasama antara kedua negara, dan negara lain sebanyak mungkin,” katanya.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif, mengatakan, setelah Kuwait, dia berharap bisa diagendakan untuk berkunjung ke Arab Saudi. Iran dan Arab Saudi selama ini berseberangan, terlebih sentimen sektarian di Timur Tengah meningkat. Iran didominasi kaum Muslim Syiah, sedangkan Arab Saudi didominasi kaum Muslim Sunni.
Zarif minta agar kesepakatan nuklir yang dicapai di Jenewa pada 24 November 2013, tidak dianggap sebagai ancaman. ”Kesepakatan (nuklir) ini tidak dapat mengorbankan negara manapun di wilayah ini,” ujar Zarif yang, berbicara melalui penerjemah dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Senin (2/12/2013).
Ditanya, apakah dia juga berencana untuk mengunjungi Riyadh, Zarif berujar; ”Kami melihat Arab Saudi sebagai negara penting dan berpengaruh di kawasaan regional dan kami berupaya untuk memperkuat kerjasama dengan mereka untuk kepentingan wilayah.’
Arab Saudi, sebelumnya pernah menyatakan, bahwa mereka hati-hati menyambut kesepakatan nuklir Iran. Beberapa pejabat setempat menuntut jaminan bahwa kesepakatan itu akan memberikan kontribusi untuk keamanan bagi wilayah Teluk dan Timur Tengah.
Setelah kunjungannya ke Kuwait, Zarif menuju ke Oman, di mana ia bertemu dengan Menlu Oman Sultan Qaboos. ”(Kami) siap untuk memperluas kerjasama antara kedua negara, dan negara lain sebanyak mungkin,” katanya.
(mas)