Massa datangi kantor PM Thailand, polisi umbar peluru karet
Senin, 02 Desember 2013 - 14:40 WIB
Massa datangi kantor PM Thailand, polisi umbar peluru karet
A
A
A
Sindonews.com - Demonstran Thailand tetap bertekad untuk mengguligkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Mereka pada hari ini (2/12/2013) kembali mendatangi kantor Yinglcuk dan terlibat bentrok dengan polisi anti-huru hara.
Polisi Thailand menembakkan peluru karet dan meriam air, untuk menghalau para demonstran yang mencoba merangsek ke kantor PM Thailand. ”Kami bergantian, antara menembakan meriam air, dan peluru karet. Peluru karet yang digunakan, hanya di satu daerah saja, di jembatan dekat Kantor Perdana Menteri,” kata Kepala Keamanan Thailand, Paradorn Pattanathabutr kepada Reuters.
Namun, para demonstran mengaku juga dilempari granat kejut. Para demonstran anti-pemerintah telah menetapkan hari Minggu sebagai "Hari Kemenangan" untuk menggulingkan Pemerintah Yingluck, meski upaya itu belum berhasil.
Dalam demonstrasi yang memasuki hari kedepalan ini, massa yang jumlahnya sekitar 2 ribu orang sebelumnya telah bergerak mendekati barikade polisi. Suthep Thaugsuban, pemimpin demonstran mengaku sudah bertemu dengan Yingluck kemarin, tapi dia menolak bernegosiasi. Dia mengklaim pertemuan itu untuk yang terakhir kali.
”Saya mengatakan kepadaYingluck, bahwa jika polisi meletakan senjata mereka, kita akan menyambut mereka karena mereka juga warga Thailand,” ujarnya. ”Saya mengatakan kepada Yingluck, bahwa ini akan menjadi satu-satunya pertemuan kami dan kita tidak akan bertemu lagi sampai orang-orang menang.”
Pertemuan itu Suthep dan Yingluck itu, diatur oleh militer. Namun, pihak militer mengklaim, bahwa mereka tetap netral. Demonstrasi anti-pemerintah yang pecah di Thailand telah memasuki hari kedelapan. Pada Sabtu sore, demonstrasi berujung pada bentrok yang menewaskan empat demonstran.
Demonstrasi besar-besaran itu dipicu usulan RUU Amnesti yang diusung Partai Puea Thai (partai berkuasa), yang merupakan partai pendukung Yinglcuk. Namun, kelompok oposisi curiga, RUU itu sebagai siasat Yinglcuk untuk membebaskan bekas PM Thaksin Shinawatra (kakak Yingluck) dari kasus korupsi tahun 2008. Thaksin kini berada di pengasingan.
Polisi Thailand menembakkan peluru karet dan meriam air, untuk menghalau para demonstran yang mencoba merangsek ke kantor PM Thailand. ”Kami bergantian, antara menembakan meriam air, dan peluru karet. Peluru karet yang digunakan, hanya di satu daerah saja, di jembatan dekat Kantor Perdana Menteri,” kata Kepala Keamanan Thailand, Paradorn Pattanathabutr kepada Reuters.
Namun, para demonstran mengaku juga dilempari granat kejut. Para demonstran anti-pemerintah telah menetapkan hari Minggu sebagai "Hari Kemenangan" untuk menggulingkan Pemerintah Yingluck, meski upaya itu belum berhasil.
Dalam demonstrasi yang memasuki hari kedepalan ini, massa yang jumlahnya sekitar 2 ribu orang sebelumnya telah bergerak mendekati barikade polisi. Suthep Thaugsuban, pemimpin demonstran mengaku sudah bertemu dengan Yingluck kemarin, tapi dia menolak bernegosiasi. Dia mengklaim pertemuan itu untuk yang terakhir kali.
”Saya mengatakan kepadaYingluck, bahwa jika polisi meletakan senjata mereka, kita akan menyambut mereka karena mereka juga warga Thailand,” ujarnya. ”Saya mengatakan kepada Yingluck, bahwa ini akan menjadi satu-satunya pertemuan kami dan kita tidak akan bertemu lagi sampai orang-orang menang.”
Pertemuan itu Suthep dan Yingluck itu, diatur oleh militer. Namun, pihak militer mengklaim, bahwa mereka tetap netral. Demonstrasi anti-pemerintah yang pecah di Thailand telah memasuki hari kedelapan. Pada Sabtu sore, demonstrasi berujung pada bentrok yang menewaskan empat demonstran.
Demonstrasi besar-besaran itu dipicu usulan RUU Amnesti yang diusung Partai Puea Thai (partai berkuasa), yang merupakan partai pendukung Yinglcuk. Namun, kelompok oposisi curiga, RUU itu sebagai siasat Yinglcuk untuk membebaskan bekas PM Thaksin Shinawatra (kakak Yingluck) dari kasus korupsi tahun 2008. Thaksin kini berada di pengasingan.
(mas)