Israel batalkan rencana pembangunan 20 ribu pemukiman di Tepi Barat
Rabu, 13 November 2013 - 16:23 WIB
Israel batalkan rencana pembangunan 20 ribu pemukiman di Tepi Barat
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rencana untuk membangun 20 ribu pemukiman baru di Tepi Barat, Selasa (12/11/2013). Pembatalan itu terlontar beberapa jam setelah bocornya rencana pembangunan pemukiman yang menuai kritik keras dari Amerika Serikat (AS) dan Palestina.
"Netayahu telah memerintahkan Menteri Perumahan Israel, Uri Ariel untuk mempertimbangkan kembali semua langkah untuk mengevaluasi rencana potensial (untuk membangun pemukim) yang telah disebarluaskan kepada tanpa melalui koordinasi terlebih dahulu," sebuat isi pernyataan dari kantor Netanyahu, seperti dilansir AFP.
"Rencana itu tidak berarti secara hukum dan tindakan itu menciptakan konfrontasi dengan masyarakat internasional. Hal itu seharusnya tidak perlu terjadi, saat kita tengah berupaya membujuk elemen dalam masyarakat internasional untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik dengan Iran," ungkap Netayahu kepada Ariel dalam pernyataan itu.
Netanyahu mengatakan kepada Ariel bahwa rencana pembangunan pemukiman tersebut bakal mengalihkan perhatian atas usahanya untuk meyakinkan kekuatan dunia agar tidak menandatangani kesepakatan dengan Iran terkait dengan program nuklirnya.
"Saat ini, perhatian masyarakat internasional tidak boleh dialihkan dari usaha utama, mencegah Iran untuk mendapatkan kesepakatan yang memungkinkan mereka melanjutkan program nuklirnya," ungkap Netanyahu.
Ariel pun mengatakan, bahwa dia menyetujui permintaan Netanyahu untuk membatalkan rencana membangun puluhan ribu pemukiman baru di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Seperti diketahui, pekan lalu Iran dan negara kekuatan dunia tengah menyetujui kesepakatan awal yang dapat menjadi jalan pembukan menerbitkan sebuah pakta yang komprehensif. Namun, perbedaan besar mencegah kedua belah pihak yang tengah berunding untuk mencapai terobosan penting, hingga akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk bertemu lagi di Jenewa pada 20 November mendatang.
Neyatahu marah dan mengecam kesepakatan baru itu. Menurutnya, hal itu memberikan dukungan penuh terhadap Iran untuk mengembangkan senjata atom dan tidak mencegah pemberhentian program nukli Iran.
"Netayahu telah memerintahkan Menteri Perumahan Israel, Uri Ariel untuk mempertimbangkan kembali semua langkah untuk mengevaluasi rencana potensial (untuk membangun pemukim) yang telah disebarluaskan kepada tanpa melalui koordinasi terlebih dahulu," sebuat isi pernyataan dari kantor Netanyahu, seperti dilansir AFP.
"Rencana itu tidak berarti secara hukum dan tindakan itu menciptakan konfrontasi dengan masyarakat internasional. Hal itu seharusnya tidak perlu terjadi, saat kita tengah berupaya membujuk elemen dalam masyarakat internasional untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik dengan Iran," ungkap Netayahu kepada Ariel dalam pernyataan itu.
Netanyahu mengatakan kepada Ariel bahwa rencana pembangunan pemukiman tersebut bakal mengalihkan perhatian atas usahanya untuk meyakinkan kekuatan dunia agar tidak menandatangani kesepakatan dengan Iran terkait dengan program nuklirnya.
"Saat ini, perhatian masyarakat internasional tidak boleh dialihkan dari usaha utama, mencegah Iran untuk mendapatkan kesepakatan yang memungkinkan mereka melanjutkan program nuklirnya," ungkap Netanyahu.
Ariel pun mengatakan, bahwa dia menyetujui permintaan Netanyahu untuk membatalkan rencana membangun puluhan ribu pemukiman baru di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Seperti diketahui, pekan lalu Iran dan negara kekuatan dunia tengah menyetujui kesepakatan awal yang dapat menjadi jalan pembukan menerbitkan sebuah pakta yang komprehensif. Namun, perbedaan besar mencegah kedua belah pihak yang tengah berunding untuk mencapai terobosan penting, hingga akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk bertemu lagi di Jenewa pada 20 November mendatang.
Neyatahu marah dan mengecam kesepakatan baru itu. Menurutnya, hal itu memberikan dukungan penuh terhadap Iran untuk mengembangkan senjata atom dan tidak mencegah pemberhentian program nukli Iran.
(esn)