Soal penyadapan, tak ada teman abadi di dunia internasional
Sabtu, 09 November 2013 - 16:09 WIB
Soal penyadapan, tak ada teman abadi di dunia internasional
A
A
A
Sindonews.com - Kabar penyadapan sejumlah negara belakangan ini santer didengar. Dengan adanya penyadapan ini, sama halnya menjelaskan, bahwa tidak ada teman abadi di dunia internasional.
"Satu hal yang menarik adalah ini membuktikan tidak ada teman abadi dalam teman internasional," kata Pengamat Hubungan Internasional LIPI Ganewati Wulandari, dalam diskusi SindoRadio, Cikini, Jakarta, Sabtu (9/11/2013).
Menurutnya, isu penyadapan bukanlah hal yang baru. Ditengarai, penyadapan sudah ada lama bahkan sejak peradaban manusia mulai ada.
"Menurut saya ini bukan isu yang baru, karena praktek penyadapan sudah seumur dan setua peradaban manusia. Jadi pada Perang Dunia I dan II, kita lihat praktek tersebut terjadi dan lazim," ujarnya.
Bahkan, ada perjanjian khusus untuk beberapa negara dalam aksi saling tukar informasi intelijen. Perjanjian ini disebutnya muncul setelah Perang Dunia II dan bersifat resmi.
"Bahkan, Setelah Perang Dunia II AS, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Inggris, mereka mengikat perjanjian, di mana mereka saling bertukar data intelejen, ini resmi,” ujarnya.
Karena itu, lanjut dia, informasi Edward Snowden yang menyebut adanya penyadapan di berbagai belahan dunia bukanlah hal baru. Indonesia saja, kata dia, pernah juga disadap Pemerntah Myanmar melalui Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar.
"Kita pernah alami penyadapan pada 2004. Ketika Kedubes kita di Myanmar disinyalir disadap Myanmar," imbuh dia.
Penyadapan, kata dia memang tidak diperbolehkan dan pernah diatur dalam Konvensi Wina. Namun, kenyataanya, intelijen memang diperlukan di mana pun. Karena itu, yang terpenting adalah bagaiamana mengatur proses penyadapan itu supaya penyadapan itu supaya tidak malah membuat kisruh suasana keakraban antar-negara.
"Mengacu Konvensi Wina memang ini tidak boleh, tapi praktiknya sulit. Kedubes mana pun kan ada aparat intelejen. Persoalannya bagaimana mengatur itu," jelasnya.
"Satu hal yang menarik adalah ini membuktikan tidak ada teman abadi dalam teman internasional," kata Pengamat Hubungan Internasional LIPI Ganewati Wulandari, dalam diskusi SindoRadio, Cikini, Jakarta, Sabtu (9/11/2013).
Menurutnya, isu penyadapan bukanlah hal yang baru. Ditengarai, penyadapan sudah ada lama bahkan sejak peradaban manusia mulai ada.
"Menurut saya ini bukan isu yang baru, karena praktek penyadapan sudah seumur dan setua peradaban manusia. Jadi pada Perang Dunia I dan II, kita lihat praktek tersebut terjadi dan lazim," ujarnya.
Bahkan, ada perjanjian khusus untuk beberapa negara dalam aksi saling tukar informasi intelijen. Perjanjian ini disebutnya muncul setelah Perang Dunia II dan bersifat resmi.
"Bahkan, Setelah Perang Dunia II AS, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Inggris, mereka mengikat perjanjian, di mana mereka saling bertukar data intelejen, ini resmi,” ujarnya.
Karena itu, lanjut dia, informasi Edward Snowden yang menyebut adanya penyadapan di berbagai belahan dunia bukanlah hal baru. Indonesia saja, kata dia, pernah juga disadap Pemerntah Myanmar melalui Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar.
"Kita pernah alami penyadapan pada 2004. Ketika Kedubes kita di Myanmar disinyalir disadap Myanmar," imbuh dia.
Penyadapan, kata dia memang tidak diperbolehkan dan pernah diatur dalam Konvensi Wina. Namun, kenyataanya, intelijen memang diperlukan di mana pun. Karena itu, yang terpenting adalah bagaiamana mengatur proses penyadapan itu supaya penyadapan itu supaya tidak malah membuat kisruh suasana keakraban antar-negara.
"Mengacu Konvensi Wina memang ini tidak boleh, tapi praktiknya sulit. Kedubes mana pun kan ada aparat intelejen. Persoalannya bagaimana mengatur itu," jelasnya.
(mas)