Perundingan gagal, Suriah bakal jadi Somalia kedua
Selasa, 29 Oktober 2013 - 16:14 WIB
Perundingan gagal, Suriah bakal jadi Somalia kedua
A
A
A
Sindonews.com- Duta PBB untuk Liga Arab, Lakhdar Brahimi berkunjung ke Suriah, hari ini (29/10/2013). Dia memperingatkan, jika upaya perundingan damai untuk Suriah gagal, negara itu terancam menjadi Somalia kedua, yakni negara yang tak berhenti dilanda perang.
Peringataannya itu muncul di tengah habisnya waktu untuk tugas inspektur senjata kimia internasional di Suriah. Padahal, inspektur yang di dalamnya termasuk Organisasi Anti-Senjata Kimia (OPCW) belum mampu menjamah dua situs senjata kimia terakhir, karena nyawa mereka terancam di tengah perang yang berkecamuk.
Brahimi mengatakan, pihaknya telah berusaha untuk merealisasikan perundingan damai untuk Suriah, seperti yang digagas Rusia dan Amerika Serikat, bulan lalu. Perundingan damai yang digagas itu bertajuk Konferensi Jenewa II untuk Suriah.
Brahimi sendiri mulai pesimistis, ketika oposisi mengisyaratkan untuk memboikot Konferensi Jenewa II. Mereka bersedia hadir, dengan syarat Presiden Suriah, Bashar al-Assad mundur. Syarat itu ditolak tegas oleh Damaskus.
Dalam sebuah wawancara dengan media Perancis, yang diterbitkan kemarin, Brahimi mengatakan Assad bisa berkontribusi pada penciptaan masa transisi baru di Suriah. Tapi, posisinya bukan sebagai pemimpin negara itu.
”Sejarah mengajarkan kita, bahwa setelah krisis seperti ini tidak akan ada kembali,” kata Brahimi, yang merupakan diplomat senior Aljazair itu, kepada situs Afrique Jeune.
Para oposisi yang mengisyaratkan tidak akan hadir dalam Konferensi Jenewa II, katanya, akan membuat Suriah sebagai negara gagal di jantung Timur Tengah. ”Bahaya sebenarnya adalah seperti Somalia, bahkan lebih mendalam dan abadi dari apa yang telah kita lihat di Somalia,” ujar Brahimi.
Lebih dari 115 ribu orang telah tewas, dalam konflik 31 bulan di Suriah. Konflik itu meletus, setelah rezim Suriah meluncurkan penumpasan brutal terhadap protes damai pro-demokrasi di negara itu. Yang terbaru, 19 kelompok pemberontak bersenjata telah mengeluarkan ancaman bagi siapa pun yang nekat menghadiri Konferensi Jenewa II.
”Siapa saja yang menghadiri pembicaraan Jenewa akan melakukan pengkhianatan, dan harus menjawab itu di pengadilan kita,” bunyi pernyataan 19 kelompok bersenjata yang mengisyaratkan ancaman eksekusi yang sah bagi siapa saja yang hadir dalam konferensi yang direncanakan pada November mendatang.
Peringataannya itu muncul di tengah habisnya waktu untuk tugas inspektur senjata kimia internasional di Suriah. Padahal, inspektur yang di dalamnya termasuk Organisasi Anti-Senjata Kimia (OPCW) belum mampu menjamah dua situs senjata kimia terakhir, karena nyawa mereka terancam di tengah perang yang berkecamuk.
Brahimi mengatakan, pihaknya telah berusaha untuk merealisasikan perundingan damai untuk Suriah, seperti yang digagas Rusia dan Amerika Serikat, bulan lalu. Perundingan damai yang digagas itu bertajuk Konferensi Jenewa II untuk Suriah.
Brahimi sendiri mulai pesimistis, ketika oposisi mengisyaratkan untuk memboikot Konferensi Jenewa II. Mereka bersedia hadir, dengan syarat Presiden Suriah, Bashar al-Assad mundur. Syarat itu ditolak tegas oleh Damaskus.
Dalam sebuah wawancara dengan media Perancis, yang diterbitkan kemarin, Brahimi mengatakan Assad bisa berkontribusi pada penciptaan masa transisi baru di Suriah. Tapi, posisinya bukan sebagai pemimpin negara itu.
”Sejarah mengajarkan kita, bahwa setelah krisis seperti ini tidak akan ada kembali,” kata Brahimi, yang merupakan diplomat senior Aljazair itu, kepada situs Afrique Jeune.
Para oposisi yang mengisyaratkan tidak akan hadir dalam Konferensi Jenewa II, katanya, akan membuat Suriah sebagai negara gagal di jantung Timur Tengah. ”Bahaya sebenarnya adalah seperti Somalia, bahkan lebih mendalam dan abadi dari apa yang telah kita lihat di Somalia,” ujar Brahimi.
Lebih dari 115 ribu orang telah tewas, dalam konflik 31 bulan di Suriah. Konflik itu meletus, setelah rezim Suriah meluncurkan penumpasan brutal terhadap protes damai pro-demokrasi di negara itu. Yang terbaru, 19 kelompok pemberontak bersenjata telah mengeluarkan ancaman bagi siapa pun yang nekat menghadiri Konferensi Jenewa II.
”Siapa saja yang menghadiri pembicaraan Jenewa akan melakukan pengkhianatan, dan harus menjawab itu di pengadilan kita,” bunyi pernyataan 19 kelompok bersenjata yang mengisyaratkan ancaman eksekusi yang sah bagi siapa saja yang hadir dalam konferensi yang direncanakan pada November mendatang.
(mas)