Datangi AS, ini curhat kerabat korban teror drone
Selasa, 29 Oktober 2013 - 11:40 WIB
Datangi AS, ini curhat kerabat korban teror drone
A
A
A
Sindonews.com - Nabila Rehman tengah memanen tanaman di kebun keluarganya tahun lalu, ketika rudal dari pesawat tak berawak (drone) Amerika Serikat jatuh seperti hujan dari langit. Rudal drone itu telah membunuh neneknya, melukai dirinya serta tujuh anak lainnya di Pakistan.
“Apa kesalahan nenekku?,” demikian pertanyaan Nabila Rehman yang ditujukan kepada Pemerintah AS.
Nabila ditemani ayahnya, bertandang ke Washington, AS, dari tempat tinggalnya di Waziristan Utara Pakistan. Saudaranya yang berumur 13 tahun ikut serta. Bocah 13 tahun itu juga terluka terkena serpihan peluru dari tembakan rudal drone AS.
Kisah derita keluarga Nabila yang jadi korban teror drone itu dirangkum dalam sebuah laporan kelompok Amnesty International. Dari penuturan mereka dan korban warga sipil lain, Amnesty menyimpulkan serangan Drone AS di Pakistan dan Yaman sejatinya melanggar hukum.
Pasalnya, warga sipil ikut terkena. Padahal, AS mengklaim serangan drone itu hanya untuk menghabisi para militan dari kelompok al-Qaeda dan Taliban.
Ayah Nabila, Rafiq Rehman, mengatakan ia menerima undangan ke AS, dari sebuah perusahaan produksi film documenter. ”Karena sebagai guru, saya ingin mendidik Amerika dan biarkan mereka tahu anak-anak saya telah terluka,” ucap Rafiq Rehman, kepada AFP dalam sebuah wawancara yang dilansir Selasa (29/10/2013).
”Putri saya tidak memiliki wajah seorang teroris, begitu juga ibuku. Itu (serangan drone) tidak masuk akal bagi saya, mengapa hal ini terjadi,” tutur Rafiq Rehman lagi. Serangan drone itu dialami keluarga Nabila tahun 2012 lalu.
Rintihan keluarga Nabila nyaris tak terekspose media. Media setempat, kala itu hanya melaporkan, serangan drone AS menghantam sebuah rumah, mobil dan beberapa militan yang tewas.
Tapi laporan media itu disangkal Rafiq Rehman. Katanya, tidak ada bangunan dan mobil yang terkena rudal drone AS. Rudal itu justru mendarat di sebuah lahan kebun di mana, nenek Nabila mengajari cucu-cucunya memanen sayuran.
“Setelah ledakan keras, di mana nenek saya berdiri, saya melihat dua lampu terang ini turun dan menghantamnya,” kata Nabila. ”Dan semuanya menjadi gelap pada saat itu.” Dia melihat darah di tangannya dan mencoba untuk menyeka dengan kerudungnya. ”Tapi darah terus mengalir.”
Kisah pahit keluarga Nabila itu dituturkan dalam sesi konferensi pers di Washington, di mana anggota Kongres dari Partai Demokrat, Alan Grayson ikut mendengarnya.
”Ketika datang ke masalah keamanan nasional seperti serangan drone, penting untuk kita dengar tidak hanya dari para pendukung serangan ini, tetapi juga dari para korban,” kata Grayson.
“Apa kesalahan nenekku?,” demikian pertanyaan Nabila Rehman yang ditujukan kepada Pemerintah AS.
Nabila ditemani ayahnya, bertandang ke Washington, AS, dari tempat tinggalnya di Waziristan Utara Pakistan. Saudaranya yang berumur 13 tahun ikut serta. Bocah 13 tahun itu juga terluka terkena serpihan peluru dari tembakan rudal drone AS.
Kisah derita keluarga Nabila yang jadi korban teror drone itu dirangkum dalam sebuah laporan kelompok Amnesty International. Dari penuturan mereka dan korban warga sipil lain, Amnesty menyimpulkan serangan Drone AS di Pakistan dan Yaman sejatinya melanggar hukum.
Pasalnya, warga sipil ikut terkena. Padahal, AS mengklaim serangan drone itu hanya untuk menghabisi para militan dari kelompok al-Qaeda dan Taliban.
Ayah Nabila, Rafiq Rehman, mengatakan ia menerima undangan ke AS, dari sebuah perusahaan produksi film documenter. ”Karena sebagai guru, saya ingin mendidik Amerika dan biarkan mereka tahu anak-anak saya telah terluka,” ucap Rafiq Rehman, kepada AFP dalam sebuah wawancara yang dilansir Selasa (29/10/2013).
”Putri saya tidak memiliki wajah seorang teroris, begitu juga ibuku. Itu (serangan drone) tidak masuk akal bagi saya, mengapa hal ini terjadi,” tutur Rafiq Rehman lagi. Serangan drone itu dialami keluarga Nabila tahun 2012 lalu.
Rintihan keluarga Nabila nyaris tak terekspose media. Media setempat, kala itu hanya melaporkan, serangan drone AS menghantam sebuah rumah, mobil dan beberapa militan yang tewas.
Tapi laporan media itu disangkal Rafiq Rehman. Katanya, tidak ada bangunan dan mobil yang terkena rudal drone AS. Rudal itu justru mendarat di sebuah lahan kebun di mana, nenek Nabila mengajari cucu-cucunya memanen sayuran.
“Setelah ledakan keras, di mana nenek saya berdiri, saya melihat dua lampu terang ini turun dan menghantamnya,” kata Nabila. ”Dan semuanya menjadi gelap pada saat itu.” Dia melihat darah di tangannya dan mencoba untuk menyeka dengan kerudungnya. ”Tapi darah terus mengalir.”
Kisah pahit keluarga Nabila itu dituturkan dalam sesi konferensi pers di Washington, di mana anggota Kongres dari Partai Demokrat, Alan Grayson ikut mendengarnya.
”Ketika datang ke masalah keamanan nasional seperti serangan drone, penting untuk kita dengar tidak hanya dari para pendukung serangan ini, tetapi juga dari para korban,” kata Grayson.
(mas)