Oposisi Kamboja gelar aksi demo di Phnom Penh
Kamis, 24 Oktober 2013 - 00:49 WIB
Oposisi Kamboja gelar aksi demo di Phnom Penh
A
A
A
Sindonews.com – Pemimpin Partai oposisi Kamboja, Partai Penyelamatan Nasional (CNRP), Sam Rainsy, pada Rabu (23/10/2013) sore, memimpin ribuan pendukungnya untuk berbaris di jalan-jalan utama Kota Phnom Penh.
Aksi ini bertujuan untuk menyerahkan petisi ke kantor PBB dalam upaya untuk mencari intervensi di dalam badan pemilu yang menjadi pelaksana pemilu di negara itu pada Juli lalu. "Protes massa adalah untuk mencari kebenaran bagi pemilih, terkait dengan penyimpangan dari pemilu bulan Juli," kata Rainsy.
Ia sempat menyampaikan orasi di hadapan sekitar 15 ribu pendukungnya di Freedom Park, sebelum memimpin pawai ke kantor PBB yang berjarak sekitar 3,5 km. "Protes ini juga untuk meminta mekanisme yang dapat diandalkan untuk mereformasi pemilu di masa depan," lanjut Rainsy, seperti dikutip dari Xinhua.
Ia juga menghimbau semua pengunjuk rasa untuk tetap berpegang pada budaya non kekerasan guna menghindari kejadian apapun. Banyak pengunjuk rasa mengikat pita di sekitar kepala mereka, sambil membawa slogan-slogan, seperti "Di mana suara saya?", "Suara saya, hidup saya", "Kita perlu penyelidikan komite independen", dan "Tidak ada keadilan, tidak ada damai sejahtera”.
Pada kesempatan ini, CNRP juga meluncurkan demonstrasi massa tiga hari di Freedom untuk menuntut peninjauan kembali dari hasil pemilu yang menyerahkan kemenangan kepada partai yang berkuasa pimpinan Perdana Menteri Hun Sen.
Aksi ini bertujuan untuk menyerahkan petisi ke kantor PBB dalam upaya untuk mencari intervensi di dalam badan pemilu yang menjadi pelaksana pemilu di negara itu pada Juli lalu. "Protes massa adalah untuk mencari kebenaran bagi pemilih, terkait dengan penyimpangan dari pemilu bulan Juli," kata Rainsy.
Ia sempat menyampaikan orasi di hadapan sekitar 15 ribu pendukungnya di Freedom Park, sebelum memimpin pawai ke kantor PBB yang berjarak sekitar 3,5 km. "Protes ini juga untuk meminta mekanisme yang dapat diandalkan untuk mereformasi pemilu di masa depan," lanjut Rainsy, seperti dikutip dari Xinhua.
Ia juga menghimbau semua pengunjuk rasa untuk tetap berpegang pada budaya non kekerasan guna menghindari kejadian apapun. Banyak pengunjuk rasa mengikat pita di sekitar kepala mereka, sambil membawa slogan-slogan, seperti "Di mana suara saya?", "Suara saya, hidup saya", "Kita perlu penyelidikan komite independen", dan "Tidak ada keadilan, tidak ada damai sejahtera”.
Pada kesempatan ini, CNRP juga meluncurkan demonstrasi massa tiga hari di Freedom untuk menuntut peninjauan kembali dari hasil pemilu yang menyerahkan kemenangan kepada partai yang berkuasa pimpinan Perdana Menteri Hun Sen.
(esn)