Abbas: Israel akan disalahkan jika pembicaraan damai gagal
Rabu, 23 Oktober 2013 - 02:52 WIB
Abbas: Israel akan disalahkan jika pembicaraan damai gagal
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, pada Selasa (22/10/2013), memperingatkan Israel, bahwa negara yahudi itu akan disalahkan jika pembicaraan perdamaian yang sedang berlangsung runtuh.
"Kami tidak akan menerima hal itu. Dan, jika mereka (pembicaraan) runtuh, maka mereka (Israel) akan menjadi alasan untuk keruntuhan itu, bukan kami," kata Abbas pada Baltic News Service selama kunjungan ke Lithuania.
Pekan lalu, harian Israel, Maariv, melaporkan, bahwa perundingan damai hampir runtuh pada September lalu karena konflik posisi di perbatasan masa depan, terutama di bagian timur Tepi Barat yang berbatasan Yordania.
Israel telah lama menyatakan, bahwa pihaknya berusaha untuk mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di sepanjang Lembah Yordan. Tapi, Palestina keberatan dengan kehadiran militer Israel di tanah yang bisa menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.
"Mereka tidak memiliki hak untuk tinggal di wilayah kami, setelah kami menandatangani perjanjian perdamaian," tegas Abbas. Ia juga menekankan, bahwa ia menerima sebuah negara Palestina tanpa militer di masa depan.
"Sesuai dengan Perjanjian Oslo, kami ingin kehadiran pasukan polisi yang kuat. Ini adalah persis seperti apa yang kita inginkan, bagaimana kita memahami, bagaimana mereka mengerti, dan bagaimana Amerika memahaminya," jelas pemimpin Palestina itu.
Abbas juga memuji permintaan Uni Eropa, yang mendesak Israel menghentikan pembangunan pemukiman di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel.
"Kami tidak akan menerima hal itu. Dan, jika mereka (pembicaraan) runtuh, maka mereka (Israel) akan menjadi alasan untuk keruntuhan itu, bukan kami," kata Abbas pada Baltic News Service selama kunjungan ke Lithuania.
Pekan lalu, harian Israel, Maariv, melaporkan, bahwa perundingan damai hampir runtuh pada September lalu karena konflik posisi di perbatasan masa depan, terutama di bagian timur Tepi Barat yang berbatasan Yordania.
Israel telah lama menyatakan, bahwa pihaknya berusaha untuk mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di sepanjang Lembah Yordan. Tapi, Palestina keberatan dengan kehadiran militer Israel di tanah yang bisa menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.
"Mereka tidak memiliki hak untuk tinggal di wilayah kami, setelah kami menandatangani perjanjian perdamaian," tegas Abbas. Ia juga menekankan, bahwa ia menerima sebuah negara Palestina tanpa militer di masa depan.
"Sesuai dengan Perjanjian Oslo, kami ingin kehadiran pasukan polisi yang kuat. Ini adalah persis seperti apa yang kita inginkan, bagaimana kita memahami, bagaimana mereka mengerti, dan bagaimana Amerika memahaminya," jelas pemimpin Palestina itu.
Abbas juga memuji permintaan Uni Eropa, yang mendesak Israel menghentikan pembangunan pemukiman di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel.
(esn)