Korut desak AS untuk hapus kebijakan bermusuhan
Sabtu, 12 Oktober 2013 - 23:46 WIB
Korut desak AS untuk hapus kebijakan bermusuhan
A
A
A
Sindonews.com – Korea Utara (Korut) mendesak Amerika Serikat (AS) untuk meninggalkan kebijakan bermusuhan terhadap negara komunis tersebut. Demikian dilaporkan kantor berita resmi Korut, KCNA, Sabtu (12/10/2013).
Seorang juru bicara Komisi Pertahanan Nasional (NDC) Korut mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa AS harus mengakhiri semua tindakan itu. Menurutnya, tindakan mengisolasi dan melumpuhkan Korut adalah sebagai bagian dari poros serakah dengan strategi Asia-Pasifik.
“Washington seharusnya tidak lagi bicara tentang dialog dan peningkatan hubungan dengan prasyarat, atau bersikeras bahwa non-agresi adalah mungkin, hanya ketika Korut membongkar senjata nuklirnya,” sebut pernyataan itu.
“AS jelas harus memahami arti dari denuklirisasi Semenanjung Korea, yang merupakan tujuan kebijakan konsisten dari Pyongyang. Panggilan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea berlaku secara keseluruhan, termasuk Korea Selatan,” tambah pernyataan itu.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mengatakan, jika Korut mulai denuklirisasi pertama, Washington akan siap untuk dialog.
Seorang juru bicara Komisi Pertahanan Nasional (NDC) Korut mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa AS harus mengakhiri semua tindakan itu. Menurutnya, tindakan mengisolasi dan melumpuhkan Korut adalah sebagai bagian dari poros serakah dengan strategi Asia-Pasifik.
“Washington seharusnya tidak lagi bicara tentang dialog dan peningkatan hubungan dengan prasyarat, atau bersikeras bahwa non-agresi adalah mungkin, hanya ketika Korut membongkar senjata nuklirnya,” sebut pernyataan itu.
“AS jelas harus memahami arti dari denuklirisasi Semenanjung Korea, yang merupakan tujuan kebijakan konsisten dari Pyongyang. Panggilan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea berlaku secara keseluruhan, termasuk Korea Selatan,” tambah pernyataan itu.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mengatakan, jika Korut mulai denuklirisasi pertama, Washington akan siap untuk dialog.
(esn)