SBY ditantang lebih tegas terhadap Australia
Rabu, 25 September 2013 - 12:35 WIB
SBY ditantang lebih tegas terhadap Australia
A
A
A
Sindonews.com – Sikap berani Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa yang memperingatkan Australia agar tidak melanggar kedaulatan Indonesia, diapresiasi Anggota Komisi I DPR RI, Budiyanto. Dia menantang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih tegas dari yang dilakukan Marty, dalam memperingatkan Australia.
Menurutnya, sikap tegas SBY diharapkan bisa muncul saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott akhir September 2013 nanti.
Kata Budiyanto, sikap tegas SBY penting, agar Australia, berpikir sekian kali jika mencoba melanggar kedaulatan Indonesia. ”Ketegasan ini diperlukan agar Australia tidak memandang remeh Indonesia,” kata Budiyanto, Rabu (25/9/2013).
Sebelumnya Menlu Marty Natalegawa, telah memperingatkan Australia agar tidak melanggar kedaulatan Indonesia. Peringatan itu disampaikan Menlu Marty kepada Menlu Australia, Julie Bishop, ketika keduanya bertemu di New York, sehari sebelum pembukaan sidang umum ke-68 PBB, kemarin.
Budiyanto berpendapat, dalam sejarah, jika Australia dipimpin oleh tokoh dari Partai Demokrat Australia, cara pandangnya selalu meremehkan Indonesia. Dia mencontohkan kebijakan Perdana Manteri Australia Tony Abbott yang mirip dengan pendahulunya dari Partai Demokrat Austrlia.
Di antaranya, kebijakan untuk menggelontoran dana sebesar AUS$420 juta guna membeli kapal-kapal nelayan, dan memberi insentif uang kepada masyarakat dan kepala desa Indonesia yang memberi informasi perihal pencari suaka yang menggunakan perahu.
Kebijakan terakhir yang ditentang Indonesia, adalah penempatan polisi-polisi Australia di Indonesia untuk mencegah akses para pencari suaka yang dikenal sebagai “manusia perahu” itu.
Budiyanto melanjutkan, hubungan baik antara Indonesia-Australia pada saat Partai Buruh berkuasa hendaknya dijaga di era Tony Abbott yang berasal dari Partai Demokrat itu. ”Siapa pun yang menjadi penguasa di Australia harus melihat Indonesia setara dengan mereka,” tegas Anggota Komisi I DPR RI itu.
Menurutnya, sikap tegas SBY diharapkan bisa muncul saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott akhir September 2013 nanti.
Kata Budiyanto, sikap tegas SBY penting, agar Australia, berpikir sekian kali jika mencoba melanggar kedaulatan Indonesia. ”Ketegasan ini diperlukan agar Australia tidak memandang remeh Indonesia,” kata Budiyanto, Rabu (25/9/2013).
Sebelumnya Menlu Marty Natalegawa, telah memperingatkan Australia agar tidak melanggar kedaulatan Indonesia. Peringatan itu disampaikan Menlu Marty kepada Menlu Australia, Julie Bishop, ketika keduanya bertemu di New York, sehari sebelum pembukaan sidang umum ke-68 PBB, kemarin.
Budiyanto berpendapat, dalam sejarah, jika Australia dipimpin oleh tokoh dari Partai Demokrat Australia, cara pandangnya selalu meremehkan Indonesia. Dia mencontohkan kebijakan Perdana Manteri Australia Tony Abbott yang mirip dengan pendahulunya dari Partai Demokrat Austrlia.
Di antaranya, kebijakan untuk menggelontoran dana sebesar AUS$420 juta guna membeli kapal-kapal nelayan, dan memberi insentif uang kepada masyarakat dan kepala desa Indonesia yang memberi informasi perihal pencari suaka yang menggunakan perahu.
Kebijakan terakhir yang ditentang Indonesia, adalah penempatan polisi-polisi Australia di Indonesia untuk mencegah akses para pencari suaka yang dikenal sebagai “manusia perahu” itu.
Budiyanto melanjutkan, hubungan baik antara Indonesia-Australia pada saat Partai Buruh berkuasa hendaknya dijaga di era Tony Abbott yang berasal dari Partai Demokrat itu. ”Siapa pun yang menjadi penguasa di Australia harus melihat Indonesia setara dengan mereka,” tegas Anggota Komisi I DPR RI itu.
(esn)