AS: Rusia melawan arus dalam krisis Suriah
Rabu, 18 September 2013 - 15:34 WIB
AS: Rusia melawan arus dalam krisis Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS), mengatakan Rusia sedang melawan arus dan mengabaikan fakta tentang penggunaan senjata kimia di Suriah. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jennifer Psaki menuduh Rusia melawan opini publik soal fakta krisis Suriah.
AS, Inggris, dan Prancis, selama ini kompak mengutip laporan investigasi PBB, bahwa, rezim Presiden Bashar al-Assad, bersalah atas penggunaan sejata kimia di dekat Damaskus pada 21 Agustus 2013. Tiga negara itu cenderung membela pemberontak yang berambisi menggulingkan Assad dari kekuasaannya.
”Dia (Rusia) berenang melawan gelombang opini publik internasional, tetapi yang lebih penting adalah fakta-fakta itu,” kata Psaki, seperti dikutip Press TV, Rabu (18/9/2013).
”Laporan PBB, menegaskan, bahwa senjata kimia, termasuk gas sarin, digunakan di Suriah. Kita semua tahu itu. Tapi berdasarkan pandangan awal kami, informasi yang terkandung dalam laporan tersebut , beberapa rincian penting telah dikonfirmasi bahwa rezim Assad bersalah dalam menjalankan serangan itu,” lanjut Psaki.
Rusia mengklaim, tidak hanya asal-asalan untuk membela Assad. Terlebih, pada Rabu (18/9/2013), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, di Damaskus, menerima bukti dari Pemerintah Suriah, bahwa, pemberontak di balik penggunaan senjata kimia di negara itu. Ryabkov, semakin yakin, jika laporan tim investigasi PBB yang dipakai untuk menyalahkan rezim Presiden Bashar al-Assad telah dipolitisasi.
Bukti, kesalahan pemberontak atas penggunaan senjata kimia itu dikantongi Ryabkov sesaat setelah dia menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Muallem.
”Sebuah laporan yang dibuat oleh inspektur PBB mengenai dugaan penggunaan senjata kimia telah dipolitisasi, bias dan sepihak,” kata Rybakov, seperti dikutip BBC. Menurutnya, para inspektur hanya hanya melihat bukti adanya dugaan serangan pada tanggal 21 Agustus 2013, bukan dari tiga insiden sebelumnya.
AS, Inggris, dan Prancis, selama ini kompak mengutip laporan investigasi PBB, bahwa, rezim Presiden Bashar al-Assad, bersalah atas penggunaan sejata kimia di dekat Damaskus pada 21 Agustus 2013. Tiga negara itu cenderung membela pemberontak yang berambisi menggulingkan Assad dari kekuasaannya.
”Dia (Rusia) berenang melawan gelombang opini publik internasional, tetapi yang lebih penting adalah fakta-fakta itu,” kata Psaki, seperti dikutip Press TV, Rabu (18/9/2013).
”Laporan PBB, menegaskan, bahwa senjata kimia, termasuk gas sarin, digunakan di Suriah. Kita semua tahu itu. Tapi berdasarkan pandangan awal kami, informasi yang terkandung dalam laporan tersebut , beberapa rincian penting telah dikonfirmasi bahwa rezim Assad bersalah dalam menjalankan serangan itu,” lanjut Psaki.
Rusia mengklaim, tidak hanya asal-asalan untuk membela Assad. Terlebih, pada Rabu (18/9/2013), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, di Damaskus, menerima bukti dari Pemerintah Suriah, bahwa, pemberontak di balik penggunaan senjata kimia di negara itu. Ryabkov, semakin yakin, jika laporan tim investigasi PBB yang dipakai untuk menyalahkan rezim Presiden Bashar al-Assad telah dipolitisasi.
Bukti, kesalahan pemberontak atas penggunaan senjata kimia itu dikantongi Ryabkov sesaat setelah dia menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Muallem.
”Sebuah laporan yang dibuat oleh inspektur PBB mengenai dugaan penggunaan senjata kimia telah dipolitisasi, bias dan sepihak,” kata Rybakov, seperti dikutip BBC. Menurutnya, para inspektur hanya hanya melihat bukti adanya dugaan serangan pada tanggal 21 Agustus 2013, bukan dari tiga insiden sebelumnya.
(esn)