Rusia tangkis provokasi Prancis terhadap Suriah
Rabu, 18 September 2013 - 09:42 WIB
Rusia tangkis provokasi Prancis terhadap Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB bertemu di New York, kemarin, untuk membahas usulan resolusi PBB untuk Suriah yang diusulkan negara-negara Barat, terutama Prancis. Namun Rusia tetap bersikeras menentang resolusi, yang dianggap sebagai provokasi terhadap sekutunya itu.
Pembicaraan selama satu jam, kemarin, berakhir buntu. Kelima negara anggota DK PBB dijadwalkan bertemu lagi pada Rabu (18/9/2013) hari ini. Prancis bersikeras, agar kesepakatan penyerahan senjata kimia Suriah, disertai tindakan kekuatan militer seperti pada Bab VII Piagam PBB.
Tapi, Rusia menolak mentah-mentah usulan Prancis itu. ”Resolusi Dewan Keamanan PBB tidak akan memuat referensi Bab VII Piagam PBB,” kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, seperti dikutip Reuters.
”Kami memiliki alasan yang paling serius untuk menunjukkan bahwa ini adalah provokasi,” ujarnya. ”Beberapa mitra kami telah menyatakan dogmatis bahwa hanya rezim yang bisa menggunakan senjata kimia, tapi kebenaran harus dipastikan.”
Kendati demikian, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bersikeras, bahwa kesepakatan AS dan Rusia terkait penyerahan senjata kimia Suriah harus disertai dengan resolusi PBB yang berisi ancaman militer, agar rezim Presiden Bashar al-Assad mematuhi kesepakatan.
”Itu (penyerahan senjata kimia) akan terjadi hanya dengan resolusi PBB yang kuat,” kata Kerry. ”Ini akan terjadi dengan penegakan norma dunia,” imbuh dia.
Presiden AS, Barack Obama, mengatakan, perlu adanya transisi politik di Suriah, di mana kekuasaan Assad menyerah dengan kesepakatan penyerahan senjata kimia di bawah kontrol internasional. ”Perlu diingat, itu sangat sulit untuk membayangkan bahwa perang sipil mereda jika Assad masih berkuasa,” kata Obama kepada jaringan Telemundo berbahasa Spanyol.
Pembicaraan selama satu jam, kemarin, berakhir buntu. Kelima negara anggota DK PBB dijadwalkan bertemu lagi pada Rabu (18/9/2013) hari ini. Prancis bersikeras, agar kesepakatan penyerahan senjata kimia Suriah, disertai tindakan kekuatan militer seperti pada Bab VII Piagam PBB.
Tapi, Rusia menolak mentah-mentah usulan Prancis itu. ”Resolusi Dewan Keamanan PBB tidak akan memuat referensi Bab VII Piagam PBB,” kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, seperti dikutip Reuters.
”Kami memiliki alasan yang paling serius untuk menunjukkan bahwa ini adalah provokasi,” ujarnya. ”Beberapa mitra kami telah menyatakan dogmatis bahwa hanya rezim yang bisa menggunakan senjata kimia, tapi kebenaran harus dipastikan.”
Kendati demikian, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bersikeras, bahwa kesepakatan AS dan Rusia terkait penyerahan senjata kimia Suriah harus disertai dengan resolusi PBB yang berisi ancaman militer, agar rezim Presiden Bashar al-Assad mematuhi kesepakatan.
”Itu (penyerahan senjata kimia) akan terjadi hanya dengan resolusi PBB yang kuat,” kata Kerry. ”Ini akan terjadi dengan penegakan norma dunia,” imbuh dia.
Presiden AS, Barack Obama, mengatakan, perlu adanya transisi politik di Suriah, di mana kekuasaan Assad menyerah dengan kesepakatan penyerahan senjata kimia di bawah kontrol internasional. ”Perlu diingat, itu sangat sulit untuk membayangkan bahwa perang sipil mereda jika Assad masih berkuasa,” kata Obama kepada jaringan Telemundo berbahasa Spanyol.
(esn)